Tampilkan postingan dengan label Kisah Perjuangan TKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Perjuangan TKI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

Dari TKI jadi NAPI, Lalu Punya toko Besi

"Maaf besok aku tidak bisa datang di acaramu, aku habis kena musibah" kira-kira seperti itulah pesan singkat yang disampaikan seorang teman di malam menjelang resepsi pernikahan saya 5 tahun lalu. Padahal dia sudah janji, meminjamkan mobilnya untuk membawa keluarga suami ke rumah saya.

Ya..... Malam itu malam menjelang resepsi pernikahan saya, teman kami mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan satu korban harus kehilangan salah satu kakinya karena diamputasi.

Karena keluarga korban tidak terima, maka dia harus menjalani serangkaian sidang dengan keputusan  penjara selama 3 bulan, membayar biaya pengobatan korban serta membayar biaya service kendaraannya dan kendaraan korban serta biaya lain-lainnya.

Teman kami yang mantan TKI Korea dan sudah lumayan mapan itu mengalami keterpurukan ekonomi karena musibah tersebut. Selain itu dia juga harus menyandang gelar mantan NAPI setelah dia keluar dari tahanan. Suatu keadaan yang bisa membuat orang stress bukan??

Tapi teman kami ini tidak mau menyerah dengan keadaan. Dia berusaha bangkit dari keterpurukan. Dia memulai semuanya dari nol lagi. Dia kerjasama dengan pemborong bangunan dan belajar tentang seluk beluk jadi pemborong bangunan.

Karena keberanian dia main spekulasi, Dia yang dulunya kerja ikut pemborong bangunan lain, sekarang dia sudah jadi pemborong sendiri. Dia yang dulunya beli bahan bangunan di tempat orang, sekarang dia sudah memiliki toko besi dan bangunan sendiri. Dia yang dulu hanya memiliki toko kecil-kecilan, sekarang tokonya sudah tambah besar dan punya pegawai. Dia yang dulu harus pinjam mobil kalau mengangkut barang, sekarang jelek-jelek sudah punya mobil sendiri.

Saya tidak menyangka, dia mampu bangkit dari keterpurukan. Dia tidak pernah minder dengan statusnya yang mantan NAPI. Toh dia harus jadi NAPI bukan karena tindak kejahatan melainkan karena musibah. ALLAH pernah menjatuhkan dia pada titik paling rendah, namun berkat ketekunannya dalam berusaha dan berdo'a, kini ALLAH mengangkatnya kembali ke titik yang lebih tinggi.

Minggu, 06 November 2011

Si Mata Sipit [Pingin] Jadi TKW??

Sepertinya akhir-akhir ini saya terlalu sibuk ikut GiveAway dan curhat, sampai-sampai melupakan misi utama saya bikin Blog *sok serius*. Setelah nulis Perjuanganku Di Negeri Beton, sampai sekarang belum nulis kisah lagi kayaknya. Hikz. Okelah, sekarang saya akan berkisah tentang Si mata Sipit yang telah menjadi tokoh di Rubik tebak wajah di Blog ini beberapa waktu lalu. 


Mata sipit itu identik dengan WNI keturunan alias orang Chinese. Betul apa betul mbak Mbak Fanny dan Koko Keven??? *ngarang*. Ada juga sich orang Jawa yang matanya sipit karena waktu hamil.... ibunya ngrasani orang Chinese. Kisah nyata mertua saya waktu  mengandung kakak ipar. Hihihi.

Kali ini saya akan cerita tentang si mata sipit yang asli keturunan Chinese tapi pingin jadi TKW. (Lho?). Iya, mungkin kedengarannya agak aneh ya???. Tapi, lagi-lagi ini kisah nyata. Seorang cewek tomboy keturunan Chinese datang ke PT Surabaya untuk mendaftar jadi TKW. 

Beliau berasal dari daerah Turen Malang, seorang cewek namun tidak mencerminkan sifat kecewekannya. Tapi lebih enjoy melakukan hal-hal yang berbau cowok. Beliau berkecimpung dalam bidang elektronik dan  membuka semacam service elektronik gitu dech. Servicenya lumayan ramai tapi karena sesuatu hal, beliau memutuskan untuk jadi TKW.

Dengan modal tekad yang kuat, beliau berangkat ke Surabaya untuk mendaftar jadi TKW dengan tujuan Hong Kong. Seperti calon TKW lain, beliau juga menjalani beberapa prosedur yang ditetapkan oleh PT termasuk foto pakai seragam yang berupa rok dengan nomor SS 333. Nomor cantik dan unik menurut teman-temannya. 

Beliau berbaur dengan calon TKW lain layaknya TKW yang proses ke Hong Kong. Tapi, si mata sipit punya keahlian yang tidak dimiliki oleh calon TKW lain. Ketika ada lampu rusak, dengan sigap beliau membetulkannya. Ketika kran air  rusak, lagi-lagi beliau bisa mengatasinya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Melihat kemampuan plus yang beliau miliki, pimpinan PT pun tertarik untuk menjadikannya Staff. PT yang penghuninya 100% kaum hawa itu akhirnya punya Tekhnisi dari kaum hawa juga. Sehingga, kalau ada kerusakan alat-alat tidak perlu memanggil tukang dari kaum Adam. Akhirnya, beliau memendam keinginan untuk jadi TKW Hong Kong dan bekerja di PT tersebut. 

Hingga akhirnya sayapun jadi bagian dari PT tersebut dengan nomor SS 654. Lumayan banyak ya selisihnya dari beliau. Kebetulan saya jadi tukang ojek PT dan saya bisa dekat dengan beliau. Karena dibalik kelebihannya dalam bidang Teknik dan belakangan juga kursus service komputer, beliau juga punya kekurangan yaitu takut naik motor. Apalagi di kota besar seperti Surabaya, makin takut saja kalau nyetir sendiri. Hehe.

Waktu terus berlalu, sayapun berangkat ke Hong Kong. Beliau ikut mengantar, dan sempat ada airmata waktu itu. Rasanya berat banget meninggalkan beliau "Andai aku boleh meminta, kuingin lebih lama bersamamu" . Penggalan kata dalam surat beliau untuk saya. 

Beberapa waktu saya di Hong Kong, kami sempat surat-suratan atau telpon. Hanya sekedar curhat tentang majikan yang galak kaya mak lampir dll. Dan melalui surat-surat yang saya tulis, beliaulah orang yang pertama kali memuji tulisan saya bagus. Dalam arti, bakat jadi penulis *halah GR*. Xixixixi. Tapi saya tidak begitu ngeh, dengan pujian beliau dan terlalu sibuk  dengan pekerjaan saya.

****
Saya kira, kami tidak ada kesempatan ketemu lagi. Tapi ternyata tidak. Tahun 2004 beliau dikirim ke Hong Kong dalam rangka dinas, sekalian tour. Dan kami sempat ketemu, seneng banget rasanya bisa bertemu beliau kembali.

Dan sedikit-sedikit saya tahu suka dukanya kerja di PT tersebut, hingga suatu hari beliau bertanya "Kira-kira kerja di Hong Kong ama di Indonesia lebih bagus mana ya???". Saya jawab, "kalau kerja di sana tidak ada perkembangan ga ada salahnya kok pergi ke Hong Kong".

Singkat cerita, ada salah satu Agen yang mau ambil beliau sebagai Staff. Dan akhirnya berangkatlah beliau ke Hong Kong dan bekerja di Agen yang satu daerah dengan saya disini. Sampai sekarang sudah berapa tahun ya??? Kira-kira 3-4 tahunan kali ya?? (Aduh maaf, saya lupa. hikz). Sebuah perjalanan panjang untuk mewujudkan impian ke Hong Kong. Meskipun impian itu sempat terpendam dalam, namun akhirnya beliau bisa mewujudkannya, Ya.... Beliau bisa sampai Hong Kong juga. Dan bukan sebagai TKW melainkan sebagai staff agen. 

Orang memanggilnya koko Ester, kalau saya mah tetap panggil beliau Ce Ester. Wuehehehehe *maaf fotonya burem*

Kamis, 06 Oktober 2011

Perjuangan Di Negeri Beton

Imajinasi tentang Hong Kong muncul begitu saja di benak gadis yang usianya belum genap 20 tahun itu. Begitu mengganggu, setelah dia menerima sepucuk surat dari sahabatnya yang jadi TKW di Hong Kong. Imajinasi itu tak dibiarkan hilang begitu saja, dia ingin mewujudkannya.

Setelah mendapat ijin dari bapak dan kekasihnya, dia daftar menjadi TKW melaluli penyalur tenaga kerja. Beberapa jam sebelum berangkat ke penampungan, dia telp ibuknya yang bekerja di Arab "mak, aku nanti setelah maghrib mau berangkat ke penampungan. Aku mau kerja ke Hong Kong". Emaknya sempat kaget, mau bilang "jangan, kok sudah daftar. Mau bilang "iya" kok ngomongnya tiba-tiba. Akhirnya, mau ga mau sang ibu mengijinkan dia pergi ke Hong Kong dan hanya do'a yang mampu beliau berikan.

Dia masuk PT di penghujung tahun 2002. Dan kebetulan, tahun 2003 di Hong Kong ada virus ganas mematikan yang namanya SAR. Sehingga pemerintah menghimbau, proses pemberangkatan TKW ke Hong Kong ditutup total. Itu berati, dia ga diproses. Beberapa temannya membujuk untuk kabur, tapi dia memilih minta uang ke keluarganya untuk menebus keluar dari PT sebesar 3juta. Setelah uang 3 juta disiapkan, dia berubah pikiran setelah dibujuk teman yang lain, agar tetap sabar "sayang khan uang 3 juta hanya untuk menebus keluar dari sini??" kata temannya.

Akhirnya dengan sabar dia menunggu dan menunggu yang dia sendiri tidak tahu sampai kapan. Dalam penantiannya itu, pihak PT mempercayai dia sebagai tukang ojek. Disaat teman-temannya menjadi burung dalam sangkar emas. Dia bisa dengan bebas wira-wiri Surabaya-Sidoarjo untuk mengantar surat-surat penting. Karena PT nya hanya PT kecil dibawah naungan PT pusat. Tugasnya itu membuat dia tidak sadar kalau penantiannya sudah menginjak 7 bulan dan dia selesai ujian dengan nilai memuaskan. 7 bulan belum juga terbang ke Hong Kong??? sempat protes, tapi ternyata ALLAH punya rencana lain. Rupanya, ALLAH ingin mempertemukan dia dengan ibunya sebelum dia berangkat ke Hong Kong. Ibunya pensiun jadi TKW di Arab dan dia sempat menikmati kebersamaan dengan ibunya meskipun hanya sekejab.

Setelah bertemu dengan ibunya, 2 bulan kemudian tepatnya tanggal 7 oktober 2003 menjelang tengah malam, Pesawat Eva Airlines membawanya terbang ke Taiwan untuk transit ke Hongkong. Yach, hari ini tepat 8 tahun dia meninggalkan Indonesia. Gadis yang seumur-umur baru tour ke Yogya itu mau pergi keluar negeri. Impian untuk pergi ke Hong Kong jadi kenyataan.

Dan tepat tanggal 8 ocktober 2003, dia pertama kali menginjakkan kakinya di negeri beton Hong Kong. Tak terasa, 8 tahun sudah berlalu. Dia bekerja di 4 majikan dalam 8tahun. Rekor yang mencengangkan mungkin, karena hampir semua temannya rata-rata kerja di 1 atau 2 majikan.

Kontrak pertamanya dengan gaji underpay dan punya majikan perempuan yang galaknya sampai mengerikan. Tapi dia berhasil menyelesaikan 2tahun.

Kontrak keduanya mengasuh anak 7 tahun yang menjengkelkan. Dan kebaikan majikannya tak mampu membujuknya untuk tetap bertahan. Hanya 6 bulan kerja, lalu dia break kontrak bukan di PHK.

Kontrak ketiganya merawat nenek 80 tahun yang angkuh, acuh seakan tak butuh pembantu dan super cerewet. Tapi keangkuhannya luluh ketika sudah terkapar tak berdaya di rumah sakit sebulan menjelang finish. Majikan mencoba menahannya agar tetap kerja. Tapi terlambat karena dia sudah tanda tangan kontrak dengan majikan lain.

Sebelum masuk kontrak keempatnya dia pulang Indonesia untuk melangsungkan pernikahannya dan kembali lagi ke Hong Kong.

Di kontrak keempat dia merawat nenek 80 tahun yang sakit kencing manis. Semua anggota keluarga baik, tapi majikan perempuan tidak kerja alias pengangguran. Meskipun ga kerja, tapi tidak pernah komplain masalah pekerjaan. Tak pernah ada amarah di rumah itu. Yang ada hanya rasa kekeluargaan dan saling menghargai meskipun dia hanya pembantu.

Tanpa terasa, hampir 3,5tahun dia bekerja di majikan itu, dan dengan berat hati harus meninggalkan keluarga yang baik hati dan memberikan banyak pengalaman hidup kepadanya itu. Dia ingat umurnya yang tak lagi muda. Sehingga harus memikirkan masa depannya. Kalau nuruti duit tak akan ada habisnya.

8 tahun bukan waktu yang singkat, banyak pelajaran berharga yang dia dapat dari negeri beton. Dia pernah gagal jadi TKW, dia pernah salah pergaulan dan berada diambang kehancuran, tapi dia mampu bangkit atas bimbingan suaminya tercinta. Sekarang dia telah mampu berjalan meskipun masih tertatih. Dan suatu saat, dia pasti mampu berlari mengejar ketertinggalannya. Semoga. . . .

Oh iya, tahukah anda siapa gadis itu? Yach. . . Gadis itu adalah saya. Hehe. Untuk kisah perjalalanan saya insyaallah akan saya wujudkan dalam bentuk buku *buku diary* xixi


BUKAN BAGAIMANA KITA BISA TERHINDAR DARI KEGAGALAN TAPI BAGAIMANA KITA BISA BANGKIT DARI SEBUAH KEGAGALAN

Minggu, 02 Oktober 2011

Dari Arab Sampai Ke Hong Kong

Posting yang lalu saya sudah bercerita tentang Vava, TKW yang Gagal Jadi TKW. Dan kali ini saya akan bercerita tentang kakak keponakan saya sendiri. Seorang TKW yang belum bisa jadi TKW sukses meskipun sudah berkelana dari Arab Saudi, Abu Dabbi dan saat ini jadi TKW Hong Kong.

Mbak misiyatun atau biasa dipanggil Situn, adalah seorang wanita lulusan SD yang dari kecil sudah terbiasa kerja keras untuk membantu ekonomi keluarga. Mbak Situn mengawali kariernya sebagai pembantu rumah tangga di kota dengan gaji beberapa puluh ribu rupiah. Dari gajinya yang tak seberapa itu, Mbak Situn bisa membantu membiayai hidup keluarganya yang terdiri dari nenek, bapak, ibu, 2 adek dan 1 keponakan (anak almarhum kakaknya).


Setelah Beberapa tahun jadi pembantu rumah tangga di kota, tiba-tiba ada keinginan pergi keluar negeri. Dan Arab Saudi yang jadi tujuannya. Beberapa tahun di Arab, tak ada perubahan fantastic dengan ekonomi keluarganya. Maklum gaji di Arab waktu itu (belum krismon) sekitar 1,2 juta. Tapi kedua adeknya bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA dan bisa memperbaiki rumah orang tuanya.

Dari Arab Saudi, sempat pindah kerja di Abu Dabbi. Hingga akhirnya, mbak situn menemukan jodohnya. Masih satu kampung dan yang aneh, suaminya yang seorang pegawai lapangan di telkom itu adalah orang yang dia benci (dulu). Tapi yang namanya jodoh tak akan lari kemana. Mereka menikah dan Mbak Situn pergi lagi ke Abu Dabbi. 2 tahun disana, pulang membawa uang yang cukup buat membangun rumah mungil di atas tanah warisan milik suaminya.

Dan kebahagiaan mereka seakan lengkap dengan tumbuhnya benih cinta di perut mbak Situn. Tak ada yang istimewa saat masa kehamilan. Namun masalah datang saat bayi yang sudah waktunya lahir itu tidak juga mau keluar. Setelah menginap di rumah bersalin seorang bidan hampir 2 hari, mbak Situn dibawa ke Rumah Sakit Umum Madiun. Berbagai usaha telah dilakukan, tapi sang bayi juga tak mau keluar. 

Akhirnya dokter memutuskan untuk operasi Cesar. Di saat darurat seperti itu, pihak rumah sakit masih menanyakan punya uang 6 juta untuk biaya melahirkan apa ga??? "Apakah kalau tidak ada uang 6 juta bayi itu tidak akan dikeluarkan???". Astagfirllah....Dokter yang seharusnya jadi penolong terpaksa bertindak kejam karena terikat oleh aturan-aturan. 

Paklik saya yang waktu itu ada di rumah sakit, tanpa pikir panjang lebar menyanggupi biaya operasi yang sekian juta itu. Padahal saat itu tidak pegang uang sama sekali. Setelah ada persetujuan dari keluarga, operasi segera dilakukan dan bayi munguil laki-laki lahir dengan selamat. Alhamdulillah..... dan keluargapun mencari pinjaman uang. Mungkin rejekinya si bayi, dengan mudahnya paklik saya mendapat pinjaman uang dari saudara. Dan administrasi  rumah sakit bisa terselesaikan.

Waktupun terus berlalu, setelah sang bayi mulai beranjak besar. Mbak Situn terpaksa meninggalkannya pergi ke Abu Dabbi lagi. Selain demi masa depan anaknya, Mbak Situn juga ingin melengkapi rumah mungil mereka yang saat itu belum dipoles dan masih kosong blong. Beberapa tahun disana, Mbak Situn pulang. Dan rumahnya sudah dipoles layaknya rumah-rumah yang lain. Tapi namanya orang kalau sudah biasa di luar negeri, apalagi hasil kerja di luar negeri tidak di manage dengan baik dan hanya mengandalkan gaji suami rasanya kok tidak cukup.

Mbak Situn pun mulai kaya cacing kepanasan pingin kembali ke luar negeri lagi. Tapi saya bilang, jangan ke Arab lagi. Kalau memang mau kerja lagi ke Hong Kong saja, gajinya lebih banyak. Awalnya Mbak Situn takut, "kalau nunggu lama bagaimana?? Kalau ga bisa bahasanya bagaimana??? Kalau begini begitu dll". Tapi saya meyakinkannya, "kamu pasti bisa dengan bekal bahasa Inggrismu (yang amburadul)" dan saya memberikan alamat PT milik salah satu agen di Hong Kong kepadanya.

Akhirnya, dengan modal ga yakin tadi, sekarang mbak Situn sudah jadi TKW Hong Kong dan telah menyelesaikan kontrak pertamanya dengan gaji full padahal perjanjian awal gajinya underpay (separo). Mbak Situn yang  waktu baru datang ke Hong Kong dikatain tol*l oleh agennya itu sekarang jadi TKW kesayangan meskipun selalu bertengkar dengan nenek (mertuanya mom). Dan diminta nambah kontrak lagi untuk merawat anak majikan yang saat ini berumur 3 tahun dan bayi berumur 1 tahun. Dan Insyaallah, nopember tahun ini juga cuti untuk merayakan ulang tahun anaknya yang ke 10. Yach, bocah yang dulu saya gendong masih merah itu sekarang sudah kelas 4 SD. Makin terasa kalau saya ini tua hihihi.

Banyak diantara kita termasuk saya, takut menghadapi sesuatu yang baru. Merasa tidak mampu, tidak bisa, tidak yakin, atau apalah yang membuat kita tidak percaya diri dan mengaku kalah sebelum mencoba. Padahal kalau kita mau mencoba dan sungguh-sungguh, kita pasti bisa. Seperti halnya mbak Situn yang tadinya merasa tidak mampu untuk jadi TKW Hong Kong ternyata juga bisa dan saat ini sudah menguasai bahasa Cantonis meskipun masih kurang lancar. "Lebih baik jadi orang gagal, daripada tidak pernah gagal karena tidak pernah melakukan apa-apa".

 Mbak Misiyatun 34 tahun, yang seakan tak pernah lelah mengais rejeki di negeri orang. Demi masa depan buah hatinya.

 Novit Andreas Pratama, putra semata wayangnya dan juga keponakan tersayang saya. Yang dari lahir sampai sekarang (kadang-kadang) selalu menghabiskan uang untuk berobat. Bocah 10 tahun ini kekebalan tubuhnya kurang baik sehingga akrab dengan penyakit, sampai ganti nama segala. Tapi alhamdulillah semakin besar semakin membaik. Meskipun penyakitan, bocah ini cerdas sekali. Dan beberapa bulan yang  lalu dibelikan seperangkat komputer (second hand) sebagai hadiah atas kecerdasannya. Semoga jadi anak sholeh,  berguna bagi keluarga dan bangsa amiiin.


Kamis, 22 September 2011

Ibu Kangen Kamu Nak!!!

Posting kali ini saya akan bercerita tentang TKW yang gagal jadi TKW (lho?). Biasanya saya khan cerita tentang TKW yang katakanlah sukses meskipun yang bersangkutan selalu mengelak kalau di bilang sukses. Sehingga label Kisah Sukses saya ganti menjadi Kisah Perjuangan TKI. Karena labelnya di ganti, maka yang akan saya ceritakan juga campur. Ya yang sukses.... ya yang gagal..... akan saya tulis semua. Kalau ada cerita sukses, mungkin bisa jadi motivasi, kalau ada kisah gagal mari kita jadikan pelajaran agar kita tidak melakukan hal yang sama.

Vava (bukan nama sebenarnya) adalah seorang TKW, yang merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Mereka anak yatim yang berasal dari Pacitan Jawa Timur. Ibu dan adiknya tinggal di rumah kontrakan yang berada di kota Reog Ponorogo. Boleh dibilang mereka ini masuk kelas ekonomi menengah ke bawah. Yang buat makan saja (mungkin) susah.

Vava dulu satu PT dengan saya dan berangkat ke Hong Kong beberapa minggu lebih dulu dari saya. Saya ga kenal dia tapi pernah dengar nama dia dari beberapa teman dan juga staff. Kontrak pertama, Vava kerja pada majikan miskin pas-pasan tapi sangat baik sekali dengan gaji biasa/separo dari UMR. Masalah pekerjaan tidak pernah di komplain dan sudah di anggap seperti keluarga sendiri

Beberapa waktu di Hong Kong, Vava yang punya majikan baik itu mulai bertingkah. Dia bergaul dengan para Lesbian dan dia pun terseret masuk ke dalamnya. Dia mulai melupakan  keluarganya. Jangankan kirim uang, telpon saja hampir tak pernah. Gaya hidupnya pun berubah layaknya para Lesbian yang lain. Semua harus ber merk, demi menjaga gengsi di depan teman-temannya.

Vava yang hanya menerima gaji biasa itu terang saja keteteran. Lha wong gaji seminggu ga cukup buat beli celana satu. Kebanyakan teman-temannya sudah tahunan kerja di Hong Kong jadi gajinya sudah full dan untuk mendapatkan celana seharga $700up rasanya bukan sesuatu yang sulit. Yach... begitulah Vava melalui hari-harinya.

Seorang teman yang kebetulan kenal dengan keluarga Vava, merasa prihatin dengan keadaan Vava. Teman inilah yang kadang kirim uang atau telpon keluarga Vava. Sedangkan Vava sama sekali tak ingat kalau punya Ibu dan Adik di Indonesia. Ibunya sampai kurus mikirin anak gadisnya ini.

Hingga akhirnya, Vava finish 2 tahun. Karena majikannya ga mampu memberi gaji full, sang majikan menyuruhnya cari majikan lain dan mengijinkan dia tetap kerja sampai dapat majikan baru. Rupanya Vava sudah ga bisa berpikir secara waras. Vava bukannya cari majikan tapi malah milih jadi Overstay. Saat jatah tinggal di Hong Kong sudah habis, Majikan dan agennya masih berusaha membantu mencarikan surat dokter buat Vava. Mikirnya agen, telat memperpanjang visa karena sakit, pasti imigrasi bisa memaafkan.

Tapi yang namanya orang sudah ga bisa mikir waras, Vava bukannya menyambut gembira pertolongan itu tapi malah ga mau datang ke agen buat ngurus perpanjangan visa. Saat itu saya dan Pimpinan PT (Bu Sofi) yang kebetulan datang ke Hong Kong sempat ketemu dia di Bundaran air mancur Victory bersama gank nya yang rambutnya merah kuning hijau kelabu (balonku ada lima) hikz. Dan Bu Sofi berusaha membujuknya agar kembali ke agen ngurus visa. Vava hanya menunduk kelihatan nyesel banget sampai nangis pula. Bu Sofi sempat kasih uang $100 buat makan katanya.

Dan besoknya kami baru tahu kalau Vava hanya mengeluarkan airmata buaya. Ternyata sama saja, Vava ga mau ke agen dan dengan tanpa dosa uang dari Bu sofi dipakai buat beli rokok dan nraktir temannya. *ngelus dada*. Bu Sofi hanya melongo merasa kena tipu oleh Vava. Tapi ya sudahlah.... nasi sudah menjadi bubur.

Waktu terus berlalu, Vava tetap menjalani hidup sebagai Overstay. Sementara ibunya di Indonesia sudah mulai sakit-sakitan karena mikirin Vava. Ibunya pesan ke temannya agar telpon pulang, Ibunya kangen pingin bertemu Vava. Tapi Vava tak bisa berbuat apa-apa. Mau pulang juga ga bisa, kecuali menyerahkan diri ke polisi dan yang pasti harus di penjara dulu baru bisa pulang Indonesia. 

Sampai akhirnya, sang ibu memejamkan mata untuk selamanya. Yach.... ibunya di panggil ALLAH. Ibunya menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sempat bertemu Vava. Saya dan teman-teman yang lain ikut merasakan pedihnya hati seorang ibu yang terlupakan oleh anaknya. Dan Vava hanya bisa diam membisu seperti menyesali perbuatannya. Penyesalan yang terlambat, kini ibunya sudah tak mungkin kembali lagi.

Beberapa lama kemudian, saya dengar kabar kalau Vava sudah tertangkap dan di penjara. Dan akhirnya pulang Indonesia. Pulang kemana??? Entahlah, Vava sudah tak punya siapa-siapa selain adik semata wayangnya. Di Ponorogo mereka hanya pendatang karena di Pacitan tak ada saudara yang bisa dimintai tolong. Seorang gadis pulang dari Hong Kong tanpa bawa apa-apa malah berstatus mantan napi. Menyedihkan sekali bukan????

Lama saya tak mendengar kabarnya eh tiba-tiba ada teman yang bilang Vava sudah sampai Hong Kong lagi. Katanya lewat jalur Singapore. Saya heran, kok masih bisa ya??? Lha buktinya bisa, tapi saya belum bertemu langsung dengan Vava. Jadi tidak bisa memastikan kebenaran kabar ini. Kalau memang Vava kembali lagi kesini, saya hanya bisa berdo'a semoga Vava bisa mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi dan bisa berubah jadi lebih baik. Amiiiin.

Dari kisah ini, mengingatkan kita eh saya sendiri agar hati-hati dalam memilih teman. Dengan siapa kita bergaul secara tak langsung akan membentuk karakter kita. Berteman dengan penjual minyak wangi kitapun ikut wangi, berteman dengan penjual sate, kita pun akan ikut bau sangit. Berteman dengan Lesbi kita pun akan ikut..... belum tentu ikutan lesbi lho. Semua tergantung diri kita masing-masing. Meskipun berteman dengan lesbi kalau iman kita kuat pasti tidak ikut terseret. Bisa jadi para lesbi yang terseret ikut jadi baik. Amiiiin.
Dan satu lagi, yang namanya orang tua ya tetap orang tua. Orang yang telah melahirkan kita. Jadi jangan sampai melakukan hal seperti Vava. Kalau bisa "BAHAGIAKAN ORANG TUA SELAGI MEREKA MASIH ADA". "Kalau orang tua sudah tidak ada bagaimana???". Tetaplah berusaha menjadi apa yang diharapkan oleh beliau dan Selalu kirim doa untuk beliau yang sudah tiada. Yakinlah, di atas sana mereka pasti tersenyum melihat keberhasilan anak-anaknya. Semangat!!! 





Senin, 12 September 2011

Gadis Desa Kesasar Di CANADA

Setelah kemarin saya sudah bercerita tentang perjuangan Mbak Tun yang bisa sampai Hong Kong karena dihina,   kali ini saya akan bercerita tentang wanita yang kebetulan juga dari Magetan Jawa Timur, sama seperti Mbak Tun. Tapi nasibnya jauh lebih beruntung karena bisa sampai ke Canada negeri yang terkenal dengan saljunya itu.


Kalau ada yang bertanya tentang CANADA, bisakah anda pergi kesana?? Kalau saya tanpa pikir panjang kali lebar langsung jawab TIDAK MUNGKIN. Bagaimana dengan anda??? apakah jawaban anda sama dengan saya?? Sebaiknya sebelum jawab dipikir dulu, karena Mbak Hani yang dulu juga punya pikiran seperti saya, akhirnya juga bisa menginjakkan kaki di negeri salju itu sebagai TKW.  Memang saat ini Indonesia belum ada jembatan untuk pergi kesana sebagai TKW. Tapi bagaimana Mbak Hani bisa sampai sana???. tentunya melalui sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan donk. hehehe


Mbak Hani memulai karirnya sebagai TKW di Singapore. Kerja 5 tahun di Singapore, tapi pulang Indonesia tak menjadikan Mbak Hani kaya. Mbak Hani kurang pandai dalam mengatur keuangan sehingga 5 tahun disana tak ada hasil apa-apa selain photo satu koper katanya. Selebihnya, Mbak Hani belum bisa memperbaiki ekonomi keluarganya.

Setelah di Indonesia beberapa waktu, Mbak Hani mulai tidak betah dan mencoba mengadu nasib ke Taiwan. 2 tahun Mbak Hani di Taiwan dan hasilnya sama alias gagal total. Rupanya kegagalan itu tak membuatnya jera untuk menjadi TKW. Mbak Hani berangkat lagi ke Taiwan untuk yang ke 2 kalinya. Yang kedua ini Mbak Hani sudah mulai berpikir, kalau memiliki sebuah tanggung jawab dan beban yang harus dipikul. Sehingga kontrak yang ke 2 ini mbak Hani lebih hati-hati dalam mengatur keuangan. Yang dulunya pegang HP 3, berubah cuma pegang HP 1 butut pula. Kalau dulu sukanya shopping di Mall, saat itu juga berubah shopping di pasar-pasar.

Setelah dengan hati-hati mengatur keuangan, Mbak Hani mulai bisa merasakan hasilnya. Rumah orang tuanya yang dulunya berdinding bambu, bisa dibangun dengan dinding batu bata meskipun hanya ditata. Tapi orang tua Mbak Hani selalu mengahargai dan  membanggakan hasil keringat putrinya ini. Hingga kontrak ke 2 selesai, dan kontrak ke 3 pun rela dijalani.

Di kontrak ke 3 inilah ada dorongan dari teman-temannya yang sudah hijrah ke Canada. Awalnya ditawari untuk ke Canada, Mbak Hani sempat kaget dengan sejumlah biaya untuk pergi ke sana. Tapi motivasi dari semua teman-temannya mampu meyakinkan Mbak Hani. Mulai saat itu, Mbak Hani lebih berhati-hati lagi dalam mengatur keuangannya. Kebetulan tempat kerjanya di daerah terpencil di Taiwan yang terkenal dengan pertaniannya. Hasil pertaniannya adalah Ubi dan jagung.

Tanpa malu, mbak Hani memungut ubi dan jagung yang berserakan tak terangkut oleh Buldozer dan dibawa pulang. Disaat tenaganya tidak dibutuhkan oleh kakek yang dirawatnya, Mbak Hani mulai bergerilnya membuat kripik dari ubi itu dan jagungnya dibuat Marning (tahu khan??). Mbak Hani menitipkan hasil olahannya itu di toko-toko dan hampir semua orang di daerah itu merasakan kripik dan marning buatannya.
Dari hasil jualan kripik dan marning Mbak Hani bisa menghemat uang gajinya.

Dan sedikit demi sedikit, tabungannya ngumpul. Saat itu Mbak Hani berani proses ke Canada dan nasib baik berpihak kepadanya.Dari Taiwan, berangkatlah Mbak Hani ke Canada. Negeri yang dulu hanya bisa dilihat di peta (mungkin) saat ini beliau bisa menginjakkan kakinya disana. Negeri yang nyaman dan damai, untuk mencari rejeki yang halal dan barokah katanya. Karena di Canada tidak ada istilah karyawan atau boss. Tidak ada istilah kaya atau miskin. Semua sama, yach.... sama-sama bayar pajaknya. Dan sampai saat ini, Mbak Hani sudah 3 tahun mengais rejeki di negeri salju itu.

Tulisan ini asli kiriman dari Mbak Hani yang sudah saya edit. Dalam tulisan Mbak Hani ini ada pesan yang disampaikan untuk kita-kita (yang belum pernah ke Canada tentunya). Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kalau kita punya IMPIAN berusahalah untuk meraihnya meskipun biaya jadi kendalanya. Dari kisah Mbak Hani ini kunci kesuksesan adalah dengan rajin MENABUNG. Yach menabung untuk pergi ke Canada sebagai motivasinya. Kalau toh kita tidak jadi ke Canada, uangnya bisa kita buat modal usaha lain, iya toh. Sepertinya prinsip ini ga harus dipakai bagi yang ingin ke Canada saja. Bagi siapa saja yang punya Impian tapi ga punya biaya, dengan menyisihkan sebagian dari hasil keringat kita, "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" kata pepatah. hehehe

Ada yang berminat pergi ke Canada??? Bagi TKI yang belum puas kerja di negara-negara bagian timur, bisa pindah haluan ke negara bagian barat yang tentunya gaji jauh lebih besar daripada yang kerja di negara bagian timur. Untuk yang masih di Indonesia bisa juga jadi pilihan untuk mendapatkan dolar. Yang penting pandai-pandailah mengatur keuangan. Dengan usaha disertai do'a, insyaallah semua akan bisa tercapai kalau ALLAH mengijinkan. Kalau saya??? sudah cukup bersyukur dengan rejeki saya saat ini. Hehe.

Mungkin apa yang saya tulis kurang lengkap. Untuk mengetahui info lebih lengkap, anda bisa langsung kontak Mbak Hani melalui Facebook nya di sini. Semoga bermanfaat.

Mbak Hani yang berasal dari desa, tapi bisa sampai ke Canada dan tetap bisa mempertahankan kesederhanaannya. Ga kelihatan ya, kalau jadi TKW di Canada. hehe




Kamis, 08 September 2011

Bisa Sampai Hong Kong Karena Dihina

Di posting yang lalu saya sudah  bercerita tentang ibu Maryam yang  Bisa Naik Haji Ketika Jadi TKW.  Kali ini saya akan bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang berasal dari daerah terpencil di kabupaten Magetan. Saat ini beliau terpaksa menjadi single parent karena suaminya lebih dulu dipanggil ALLAH swt.

Puluhan tahun yang lalu, beliau hidup berdua dengan ibunya, di gubuk reyot yang sewaktu-waktu bisa roboh dan mengancam keselamatannya. Hidup sederhana tapi beliau tak merasa kekurangan apa-apa karena tak pernah hilang rasa bersyukurnya. Karena sesuatu hal yang tidak bisa saya ceritakan disini, tiba-tiba pakleknya (adek kandung ibunya) berkata " ati-ati kembrukan omahmu lho" (bahasa indonesianya gimana ya?) Hikz. Kata-kata itu diucapkan dengan nada menghina, sehingga membuat hati beliau panas dan bertekad untuk jadi orang SUKSES.

Sampai akhirnya beliau menikah, dan lahirlah buah hati mereka yang pertama. Kelahiran yang penuh perjuangan, hampir saja dioperasi. Mendengar kata operasi yang waktu itu biayanya 6 juta (uang darimana???), sehingga dengan sekuat tenaga beliau berjuang melahirkan bayi itu. Dan alhamdulillah setelah melalui proses yang tak mudah, bayi perempuan mungil lahir normal tanpa operasi. 

Rupanya tekad untuk jadi orang sukses masih melekat dipikirannya. Akhirnya dengan berat hati beliau meninggalkan bayi yang baru berumur 15 bulan dan suaminya tercinta untuk pergi ke Hong Kong. Sampai Hong Kong beliau kerja keras dan dari hasil keringatnya selama 2 tahun beliau mampu menyulap gubuk reyot jadi sebuah rumah yang megah. 

Kontrak demi kontrak beliau lewati. Kira-kira 2 tahun lalu, beliau merasa lelah kerja terus dan ingin mengabdi kepada suaminya serta merawat bayi mungil yang saat itu sudah hampir lulus SD. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan. Beberapa bulan sebelum beliau pensiun, mendadak ada kabar kalau suaminya kecelakaan yang menyebabkan koma dan dirawat di ruang ICU. Shock!! itulah yang beliau alami. Saat itu juga beliau segera boking tiket pulang ke Indonesia. Tapi karena harus mengatur jadwal dengan sang majikan, beliau tidak bisa langsung pulang. 

Setelah segala sesuatunya beres,  akhirnya beliau bisa pulang. Waktu itu suaminya tidak ada perkembangan dan akhirnya menghembuskan nafasnya sehari sebelum beliau pulang. Malam ini suaminya meninggal, besok Jam 4 sore beliau terbang. Kabar itu disampaikan oleh keluarganya kepada seorang teman disini, tapi sudah dipesen sama keluarganya jangan sampai dikasih tahu kalau suaminya sudah meninggal. Dan sore itu pesawat mengantar beliau ke Indonesia dan jenazah suaminya sudah dimakamkan di kampungnya sendiri (lain kota). Begitu sampai di rumah, beliau mengajak ke rumah sakit. Tapi keluarga berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi dan menyuruh beliau istirahat. 

Dan besoknya, keluarga baru menceritakan yang sesungguhnya. Apa yang terjadi setelah tahu? Beliau pingsan berkali kali dan hanya bisa nangis sejadi-jadinya. Rencana awal ingin pensiun dan berkumpul dengan keluarga, tapi saat beliau pulang tidak bertemu suaminya dan hanya bisa memandang gundukan tanah yang masih basah serta batu nisannya. 

Setelah konfirmasi dengan majikan, jatah cuti yang seharusnya hanya 2 minggu bisa diperpanjang sampai 40 harinya sang suami. Dengan resiko tiketnya hangus dan harus beli lagi yang baru. Yang lebih menyedihkan, tabungan yang seharusnya buat modal dan hidup setelah pensiun, saat itu ludes tanpa sisa bahkan masih kurang untuk biaya rumah sakit dll.

Setelah 40 harinya sang suami, beliau kembali lagi ke Hong Kong. Waktu itu saya juga ikut menjemput ke bandara bersama 2 teman yang lain. Begitu bertemu beliau, kami langsung nangis dan memeluk raga yang keliatan makin kurus dan wajahnya nampak lebih tua dari sebelumnya. Tak ada airmata di pipinya, beliau berusaha  tersenyum meskipun dipaksakan. Sepanjang perjalanan beliau hanya diam seribu bahasa mendengarkan kami berceloteh dengan harapan mampu menghiburnya. 

Ternyata, apa yang terjadi tak seperti apa yang kami bayangkan. Beliau nampak begitu tegar meskipun baru saja kena musibah. Kami semua salut dengan beliau yang memutuskan kembali lagi ke Hong Kong meskipun suaminya baru saja meninggal. Apa yang membuat beliau bisa tegar??? Senyum gadis kecil yang dilahirkan dengan penuh perjuangan itulah yang mampu membuat beliau bertahan. Karena bocah itulah beliau mau memulai perjuangannya dari nol lagi. "Kalau aku ga kembali ke Hong Kong anaku siapa yang membiayai sekolahnya??" kata beliau waktu itu. Mulai hari itu sampai sekarang, perlahan-lahan beliau mampu bangkit lagi dari keterpurukan ekonomi.

Sebuah perjuangan yang tak kenal lelah untuk mencapai sebuah IMPIAN. Memang perjuangan itu belum mencapai titik kemenangan, namun setidaknya beliau mampu menunjukkan kepada dunia terutama kepada pakliknya. Kalau beliau juga bisa hidup layaknya orang-orang di sekitarnya. Dan tahukah apa yang terjadi dengan pakliknya??? Saat ini, keadaan puluhan tahun yang lalu berbalik arah. Beliau bisa memiliki rumah megah dan pakliknya gantian yang tinggal di rumah reyot, kalau hujan tidak berani menempati. Katanya takut roboh dan menimpa keluarganya. Dan saat ini menjadi salah satu penerima Zakat & Sodaqoh. Subhanallah.....

Kisah ini bisa jadi pelajaran untuk saya pribadi dan anda (mungkin), bahwa tak selamanya orang itu diatas dan ada kalanya orang itu dibawah. Begitu juga sebaliknya. Jadi, jangan sombong dengan harta yang kita punya. Karena harta itu hanya titipan ALLAH yang sewaktu-waktu bisa diambilnya lagi. Dan jangan rendah diri dengan kemiskinan yang kita hadapai. Karena ALLAH tak akan memberi ujian melibihi kemampuan yang kita miliki. Tetap semangat!!

Mbak Tun 39 tahun. Single parent yang bisa sampai Hong Kong karena HINAAN. Yach.... hinaan yang tak membuat beliau sakit hati tapi malah jadi motivasi untuk terus bertahan dengan kerasnya kehidupan negeri beton Hong Kong. Semoga ALLAH selalu melindungi beliau dan para TKW dimanapun berada. Amiiiin.

Kamis, 01 September 2011

Bisa Naik Haji Ketika Jadi TKW

Kemarin saya sudah bercerita tentang ibu Minah Abdullah yang Jadi JUMINTEN Di Amerika, kali ini saya akan bercerita tentang teman seperjuangan beliau waktu jadi TKW di Arab. Kebetulan teman beliau itu adalah emak saya sendiri yang masih saudara 1 kakek dengan ibu Minah Abdullah.

Seperti yang sudah saya ceritakan, Emak pergi ke Arab Saudi waktu saya masih kelas 5 dan adek kelas 2 SD. Masih sangat kecil dan masih butuh belaian kasih sayang seorang ibu. Saya sendiri kurang tahu pasti alasan emak pergi ke luar negeri untuk apa. Secara ekonomi saya merasa tercukupi, tapi entahlah bagaimana usaha orang tua saya dalam mencukupi kebutuhan kami. Mungkin dengan banting tulang dan mandi keringat kali yach hehe.


Di kontrak pertama, emak punya majikan yang pelitnya minta ampun, cemburuan, rumah besar dan makannya kurang terjamin. Tapi beliau mampu bertahan selama 3,5 tahun. Dan pulang dengan badan separonya dari waktu berangkat dulu alias kurus sekali. Sebuah penderitaan yang kami (keluarganya) tidak pernah tahu, karena beliau tidak pernah menceritakan yang sesungguhnya.

Waktu itu beliau pulang tanpa memberi kabar kepada kami. Tiba-tiba saja beliau sudah ada di depan pintu. Sebuah kejutan yang benar-benar mengejutkan. Dan dari hasil keringat beliau selama 3,5tahun, telah mampu membangun kembali rumah nenek yang sudah mulai rusak sana sini. Saya masih ingat sekali, waktu itu tahun 96/97 dimana uang 7juta rupiah sudah bisa membangun rumah. Meskipun hanya berdiri saja belum ada pintu dan jendela. Lha sekarang??? Uang segitu bisa dapat apa yach???

Rumah sudah berdiri, kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Setelah 6 bulan di rumah, keinginan ke Arab muncul kembali. Akhirnya beliau meninggalkan kami lagi. Di majikan ke 2 nya, tugas sangat berat  tapi majikannya sangat baik. Sampai-sampai finish kontrak diminta nambah kontrak lagi. Beliau mau nambah kontrak tapi dengan mengajukan 2 syarat. Yang pertama harus membiayai emak naik haji, dan yang kedua harus diijinkan pulang cuti pas lebaran. Karena majikan sudah cocok dengan emak, akhirnya 2 syarat itu diiyakan oleh sang majikan.

Dan seperti yang telah dijanjikan (tahunnya 1999), emak terpanggil untuk mengunjungi tanah suci menunaikan ibadah haji. Tapi ada yang aneh, karena sang majikan meminta biaya haji yang sebesar 2000 reyal kepada emak. Waktu itu gaji emak masih 600 reyal. Emak sempat kaget tapi bersyukur dalam hati karena gajinya tidak dikirim ke Indonesia semua. Emak menyerahkan uang 2000 reyal dan berangkat ke tanah suci. 

Ibadah haji berjalan dengan lancar dan beliau pulang ke rumah majikan. Majikan menyambut emak dengan gembira dan berkata "Ketahuilah maryam, ibadah haji itu harus dengan biaya sendiri, tidak boleh dibiayai. Dan ini aku berikan hadiah karena kamu telah menunaikan ibadah haji dengan lancar" sambil menyerahkan uang 2000 reyal kepada emak. Emak kaget, mungkin juga sampai nangis saking senengnya. Ternyata majikannya menepati janji. 

Dan tahun berikutnya, tepatnya tahun 2000 emak dikasih ijin cuti pas lebaran. Yang paling seneng ya saya dan adek. Bisa merasakan lebaran bareng emak hehe. Kali ini emak sudah gemuk lagi ga kaya kepulangannya yang pertama. Hampir 2 bulan beliau di rumah menemani kami setelah itu kembali lagi dengan aktivitasnya yang melelahkan. "Pekerjaan berat kalau dikerjakan dengan senang hati akan terasa ringan". Keyakinan inilah yang membuat beliau mampu bertahan hingga juli tahun 2003.

Juli 2003 beliau pensiun jadi TKW dan ganti saya yang jadi TKW. Waktu itu beliau pulang tidak membawa uang puluhan juta. Tapi beliau tetap bangga karena memiliki kami (saya dan adek) yang merupakan harta beliau yang paling berharga. Dan impian beliau untuk naik haji bisa terlaksana. Yang ternyata, niat untuk naik haji sudah ada sebelum beliau meninggalkan Indonesia. Memang gelar haji beliau tidak diakui layaknya jamaah haji yang berangkat dari Indonesia. Kata beliau "Mak'e ibadah karena Allah bukan semata-mata untuk mendapat pengakuan dari masyarakat". Saya hanya melongo mendengar kata emak itu. 

Tulisan ini, tidak ada maksud untuk pamer, melainkan untuk memotivasi saya pribadi syukur-syukur kalau bisa memotivasi pengunjung blog ini. JANGAN TAKUT UNTUK MEMILIKI IMPIAN. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau ALLAH menghendaki. Seperti halnya Emak saya yang tadinya tidak punya apa-apa, juga bisa memenuhi rukun islam ke 5 melalui jalan yang tak disangka-sangka yaitu jadi TKW. Mari kita gali kembali impian-impian kita yang mungkin telah terlupakan. Dengan berusaha, berdo'a dan menyerahkan keputusan akhir pada ALLAH. Insyaallah apa yang kita impikan akan jadi kenyataan. Amiiiin.

Ibu Maryam 51 tahun, anak ke 4 dari 6 bersaudara. Pernah jadi anak angkat seorang dukun beranak yang bisa jopa japu. Masa kecilnya akrab dengan marahan dan pukulan tapi hanya diam dan tidak berani pulang ke rumah ibu kandungnya yang rumahnya hanya berjarak 3 rumah. Pernah jadi anak angkat seorang ibu baik hati dan di sekolahkan menjahit sampai beliau mahir dalam hal menjahit. Menikah..... bla...bla....bla.... sampai akhirnya jadi TKW dan sekarang jadi penjual jajan keliling dan usaha sampingan catering. Sekian sekilas info xixixixi.

Senin, 22 Agustus 2011

Jadi JUMINTEN di Amerika

Di postingan yang berjudul ADA BERKAH DIBALIK PENIPUAN, saya sudah mengajak anda untuk menengok perjuangan seorang TKI di Taiwan. Dan kali ini saya akan mengajak anda ke Amerika, tapi bukan untuk mewawancarai pasangan Bayu & Firly yang sekarang sedang mengemban tugas negara sekalian bulan madu itu lho ya.  Tapi mau berceloteh tentang perjuangan seorang wanita yang tak memiliki kemampuan apa-apa  namun bisa  terdampar di Amerika. Oh iya.... Emang siapa sich Bayu & Firly itu kok bisa kesasar di Amerika juga??? Buat yang belum kenal silahkan berkunjung ke markasnya di http://oioisquad.blogspot.com/ (lho kok jadi promosi???) xixixi

Cepat-cepatlah pulang ke Indonesia
Sudah tak tahan ingin jumpa
 Cepat-cepatlah pulang ke Indonesia
 Indonesia raya.... Merdeka
 Sekali merdeka.... tetap merdeka.....

Ingatkah anda lirik diatas lagunya siapa??? Yang saya tahu lagu ini berjudul "JUMINTEN" yang nyanyi lupa hikz. Lagu ini sepertinya pas buat seorang ibu dari 5 anak dan nenek dari 6 cucu yang dulunya bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Namun dewi keberuntungan sedang berpihak pada beliau sehingga bisa ikut majikan yang orang Mesir ke Amerika. Jadi pembantu rumah tangga di Amerika dengan gaji dollar Amerika pula. Yang jelas beberapa kali lipat dengan gaji saya donk. hehe

Saya sempat tanya sedikit tentang beliau pada anak bungsunya melalui inbox facebook. Dan saya baru tahu kalau beliau di Amerika tepatnya tinggal di daerah Virginia dan bekerja di daerah Maryland ini sudah hampir 11 tahun. Sempat kaget juga, ternyata sudah selama itu. Dan selama 11 tahun itu beliau sama sekali belum pulang ke Indonesia. Ditambah kerja di Arab Saudi beberapa tahun, sampai-sampai pernikahan ke 5 anaknya, beliau tidak ada di rumah. Subhanallah..... bagaimana perasaannya ya??? 

Meskipun cucunya sudah besar, namun nenek dengan 6 cucu ini masih nampak awet muda. Kok bisa??? Hawanya Amerika ataukah karena uangnya yang bikin orang awet muda ya??? hehehe. Tapi salut banget dengan beliau yang mampu bertahan melawan kerasnya kehidupan di negeri paman Sam. Dan juga mampu mengalihkan kerinduan kepada keluarga dengan pekerjaan. Salut juga dengan kesetiaan suami beliau yang saat ini sedang menikmati masa-masa pensiun tanpa kehadiran seorang istri. 

Sebenarnya apa ya yang beliau cari??? Anak sudah dewasa semua, cucu juga sudah punya. Tapi kok masih saja semangat mencari uang di negeri orang. Bukankah kebersamaan jauh lebih berharga daripada harta??? Entahlah..... saya sendiri tidak bisa menjawab. Wong saya sendiri juga jadi Juminten tapi di Hong Kong xixixixi.

Waktu saya tanya langsung ke beliau kapan pulang ke Indonesia, beliau bilang tahun depan. Yach hanya bisa berdo'a semoga rencana beliau tidak meleset. Bisa segera pulang ke tanah air dan bisa menikmati hari tua bersama keluarga. Kalau nuruti duit rasanya sebelum dunia berakhir tak akan ada habisnya dech hehe. Semoga ALLAH selalu melindungi dan melancarkan semua urusan beliau dan kita semua. Amiiiin.

Ibu Minah Abdullah, yang masih tetap awet muda meskipun usianya tak lagi muda

Sabtu, 06 Agustus 2011

ADA BERKAH DI BALIK PENIPUAN

Setelah hampir 2 tahun dan 2 kali pindah PT (penyalur TKI), akhirnya pemuda yang baru menikah beberapa bulan itu mendapat panggilan berangkat ke Taiwan. Gembira sekaligus sedih setelah mendapat kabar itu. Karena biaya pemberangkatan kurang 10 juta dan harus segera dibayar kalau ingin di berangkatkan. Kemana harus mencari uang 10 juta??? Sedangkan uang yang sudah masuk PT yang lama belum bisa keluar. Mau minta istri yang baru 3 bulan sampai Hong Kong dia tidak berani. Masa laki-laki harus minta ama istri??? Bukankah suami yang seharusnya menafkahi istri??? Itu yang ada dalam pikirannya. Akhirnya..... Hanya bisa diam tanpa tahu apa yang harus dilakukan.


Namanya juga sudah menjadi suami istri, seakan sudah punya suatu ikatan batin. Istrinya pun merasakan apa yang dirasakan suaminya. Setelah sedikit memaksa, dia pun menceritakan kabar itu kepada sang istri. Spontan istrinya marah sekaligus gembira. Marah karena sang suami tidak mau menceritakan masalahnya. Gembira karena akhirnya suaminya akan segera berangkat ke Taiwan. Setelah tahu masalahnya, sang istripun ikut bingung karena juga tidak punya uang 10 juta. Haruskah melepaskan kesempatan yang ditunggu hampir 2 tahun itu???

Di saat harapan mulai sirna, pertolongan Allah datang. Setelah sang istri memberanikan diri minta tolong kepada ibunya, uang 4 juta pun mampu dipegang. Memang belum cukup tapi lagi-lagi pertolongan Allah datang tanpa dia sangka-sangka. Uang dari PT yang lama keluar dan akhirnya pemuda itu dinyatakan bisa berangkat ke Taiwan dengan job di home Industri. Agak kecewa, tapi dia bersyukur bisa berangkat. Dan yang dia pikirkan, disana nanti dia punya teman dari Indonesia meskipun tak sebanyak di pabrik besar.

Singkat cerita, pemuda itu sampai di Taiwan. Apakah masalah selesai sampai disitu?? TIDAK. Pihak penyalur TKI yang mengatakan dia bekerja di home industri itu ternyata bohong. Di kontrak kerja, tertulis, dia sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) dengan job merawat Nenek. Tapi itu hanya kontrak di atas kertas. Pada kenyataannya dia dipekerjakan sebagai kuli serabutan dan hanya dia pegawainya. Dengan gaji sama seperti PRT tanpa libur, sehingga gajinya sama dengan mereka yang kerja di pabrik. Yang lebih menyedihkan, di Indonesia dia sudah bayar 25 juta sampai di Taiwan pun harus bayar potongan gaji selama 1 tahun tapi setiap bulan masih dapat sisa gaji yang lumayan.

Shock!! itulah yang dia alami saat baru datang di rumah majikan. Pingin pulang dan tangisan. Tapi istrinya memberi semangat agar tetap bertahan. Sang Istri berkata "Ingat berapa lama kamu menunggu??? Berapa puluh juta uang yang sudah kamu keluarkan??? Apakah kamu akan berhenti sampai disini???. Bukankah kamu sudah berjanji akan membahagiakan aku??? Tetaplah bertahan suamiku, aku akan selalu menemanimu". Kata-kata istrinya bagai oase di padang pasir yang menyejukkan. Semangat itu berkobar kembali.

Hari terus berlalu, dia jalani hari-harinya dengan pekerjaan. Berkelana dari satu pasar ke pasar untuk mengantar barang dan masih banyak lagi tugas-tugas yang melelahkan yang harus dia kerjakan. Namun lelah itu seakan hilang saat suara sang istri menyambut dia pulang kerja. Meskipun dalam 24 jam hanya mampu memberikan waktu 5-10 menit untuk sang istri. Tapi kemesraan dan keharmonisan tetap terjaga dalam rumah tangganya. Ada beberapa orang yang mencoba mematahkan semangat dia. Ada Wanita-wanita indonesia yang mencoba menggodanya, ada yang menyuruhnya kabur mencari pekerjaan yang lebih layak untuk seorang laki-laki. Tapi pendiriannya tak goyah, dia tetap bertahan hingga sekarang (hampir 3 tahun).

Karena job nya sebagai PRT, makan tidur sudah di tanggung majikan. Kebetulan dia ga ngerokok dan tidak ada libur. Dan saat mengantar barang, setiap hari dia membantu seorang nenek yang baik hati untuk mengangkat barang-barang. Sebagai imbalan, nenek itu memberi uang beberapa ratus NT yang bisa buat jajan dan beli kartu telepon. Jadi gajinya utuh dan setiap 2 bulan sekali 6-8juta bisa masuk rekening istrinya. Setiap beberapa bulan sekali gajinya dipotong buat bayar pajak yang nantinya juga di kembalikan setelah finish kontrak. Sedikit memang, tapi dia dan istrinya sangat mensyukurinya. Karena banyak teman-temannya yang kerja di pabrik pada mengeluh. Katanya gajinya di potong ini itu, ada libur, ngerokok dll. Sebulan bisa nabung 2 juta saja itu sudah bagus. Saya kira kerja di Taiwan gajinya banyak, eh ternyata..... tapi memang setiap perusahaan gajinya tidak sama sich.

Selain gajinya utuh dia juga bisa menguasai 60% bahasa mandarin karena seringnya komunikasi dengan majikan. Dan yang lebih menakjubkan, dia bisa membawa mobil sendiri keliling Taiwan ngantar barang. Hal yang tidak bisa didapatkan oleh TKI lain yang bekerja di Pabrik. Orang yang waktu berangkat hanya berbekal buku bahasa mandarin dan tidak bisa apa-apa itu sekarang bisa nyopir, bisa ngelas dan bisa berbicara bahasa mandarin dan punya istri yang selalu setia menemaninya. Tak terdengar lagi keluhannya meskipun sangat berat perjuangannya. Dia menyadari bahwa RENCANA ALLAH JAUH LEBIH INDAH DARI YANG DIA BAYANGKAN. 


Saat ini dia sedang menunggu kontraknya yang akan selesai 3 bulan lagi. Yach.... bulan nopember dia akan pulang bersama istrinya tercinta. "Lho Mbak Tarry khan juga pulang bulan 11????" Iya..... karena istri yang setia menemaninya disaat-saat sulit itu adalah saya sendiri. Dan pemuda yang mampu bertahan disaat-saat sulit itu adalah suami saya. Hehehe.

ALLAH TIDAK AKAN MEMBERI COBAAN MELEBIHI KEMAMPUAN KITA
JANGAN PUTUS ASA, TETAPLAH BERTAHAN
TETAP BERUSAHA DAN BERDO'A
 PASTI ADA KEMUDAHAN DI BALIK KESULITAN


Minggu, 31 Juli 2011

Dhana Arsega/戴安娜 [bukan] hanya WANITA BIASA

Setelah beberapa jam menunggu di bawah rumah saya sambil kasih makan nyamuk-nyamuk nakal. Akhirnya saya bisa kopdar (kopi darat tapi minumnya teh) dengan seorang Blogger di penghujung bulan juli yang kebetulan juga penghujung bulan Sya'ban menjelang bulan suci Ramadhan. Beliau adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) Hong Kong juga, seperti saya tapi tugasnya beda. Kalau saya tugasnya sebagai pembantu rumah tangga, kalau beliau sebagai pembantu manager merangkap tukang bersih-bersih dan wira-wiri keliling ASIA. Bahkan tahun ini telah menyelesaikan pasca sarjananya dan insyaallah akhir bulan ini akan wisuda. Yang katanya akan dapat gelar MBA (Master of Business Administration).  Inilah yang dinamakan satu profesi beda prestasi. Hebat khan??? Siapa dulu suaminya??? xixixixi (ga nyambung)


Pasti sahabat blogger sudah tahu dengan siapa saya kopdar. Ya.... siapa lagi kalau bukan Mbak Dhana, wanita biasa yang serba bisa. Dengan mudah saya bisa menemukan tempat yang ditunjuk mbak Dhana untuk bertemu. Karena dulu saya juga pernah kerja di daerah itu. Alhamdulillah saya datang dulu tidak membuat beliau menunggu. Sempat berpikir, "Kalau ketemu bisa mengenali mbak Dhana ga ya???" Karena saya pernah kopdar dengan teman facebook yang foto sama orangnya sangat amat jauh berbeda sekali. Tapi lain dengan mbak Dhana, waktu saya duduk dari jauh beliau sudah senyum duluan. Jadi saya yakin inilah mbak Dhana. Yang ternyata ga jauh beda dengan fotonya. Wanita sederhana yang Tingginya hampir sama dengan saya tapi postur tubuhnya kurang lebih separo dari tubuh saya alias langsing xixixi.

Bagai teman lama yang tak berjumpa, kami langsung cas cis cus pakai bahasa jawa campur indonesia. Awalnya jadi pesiennya mbak Dhana, saya di cek tekanan darah dan test darah (punya penyakit deabetes ga??). Yang hasilnya, tekanan darah kurang tapi yang lain-lain normal. Dari sini saya kagum pertama kalinya, ternyata mbak Dhana juga magang di rumah sakit dan akrab dengan serba serbinya rumah sakit. Bukan hanya akrab dengan dunia maya saja rupanya. hehe

Setelah cerita ngalor ngidul tiba-tiba, ceritanya kok menjurus ke masalah pribadi. Saya bilang "Saya nikah 2 minggu terus balik Hong Kong lagi mbak". Mbak Dhana jawab "Lha aku malah nikah 5 hari tak tinggal ke Hong Kong lagi". Saya mlongo, ternyata ada yang lebih menyedihkan dari saya. Tapi suaminya Mbak Dhana sempat kerja di Hong Kong 4 bulan. Kesempatan kangen-kangenan kali yach??? (sok tahu xixixixi). Dan lagi-lagi saya di buat kagum untuk yang kedua kalinya, ternyata usia mbak Dhana 2 tahun lebih muda dari saya. Tapi prestasinya jauh beberapa tingkat diatas saya.
 
Sebenarnya mbak Dhana ga libur, tapi sedang mengunjungi nenek (ibu dari boss nya), jadi kopdar kami tidak murni (kaya emas saja) tapi disambi-sambi). Bagi saya tidak masalah, pertemuan ini yang pertama dan yang terakhir di siang hari tanpa puasa. Karena sekarang sudah puasa dan insyaallah sebelum lebaran mbak Dhana sudah pensiun, mau mengabdi pada suami dan negeri sendiri. Terus bulan 11 saya juga pensiun menyusul mbak Dhana. Tak selamanya to kita ikut orang terus, saatnya menikmati udara segar kampung sendiri. Kata pepatah "Seenak-enaknya di negara orang, masih enak di negara sendiri". Betul apa betul?

Saking baiknya sama majikan, saya pun di ajak makan vegetarian food bareng nenek mbak Dhana. Sebenarnya malu tapi mau xixixi. Habis makan, kami berpisah dan saya menikmati taman dekat rumahnya nenek mbak Dhana. Eh tiba-tiba mbak Dhana telp lagi katanya mau ke pasar. Ya sudah akhirnya nemenin belanja mbak Dhana setelah itu berpisah dan saya pun langsung ke CausWayBay Taman Victory. Dapat ampau merah dan jajan dari mbak Dhana xixixi.
nich mbak Dhana kalau lagi belanja, xixixixi nyolong ini. 
yang dari depan belum sempat dikirim ke saya

Pertemuan singkat namun sangat berkesan. "Semoga pertemuan ini membawa berkah". Kata mbak Dhana. Saya hanya bisa meng Amini do'a mbak Dhana. Semoga masih bisa bertemu sekali lagi sebelum mbak Dhana pensiun. Yang katanya mau di ajak ke Lantau Island (lihat goggle map). hehe

Kesan saya terhadap Mbak Dhana, beliau wanita mandiri (sejak SD sudah hidup jauh dari orang tua), sederhana, berwawasan luas tapi tetap rendah hati, mau bergaul dengan siapa saja. Buktinya tiap ketemu anak Indonesia selalu disapa ramah padahal tidak kenal. Dan yang membuat saya salut, jiwa sosialnya luar biasa. Untuk yang satu ini saya ndak berani buka. Ntar dikira riya', biarlah Mbak Dhana dan Allah saja yang tahu. hehehe. Pokoknya mbak Dhana adalah [bukan] hanya wanita biasa. Bukan menyanjung tapi inilah kenyataan yang ada. Semoga tidak menjadikan mbak Dhana sombong dan tetap rendah hati. Amiiiin.

Eh iya, mbak Dhana juga lagi buka paket hemat di bulan Ramadhan. Beli Hosting+domain ada nilai amalnya lho. Hayo yang belum beli segera hubungi mbak Dhana, harganya Rp. 150.000. Saya bukan sales, yang di gaji oleh mbak Dhana lho, tapi hanya membantu menyebarkan informasi. Moga jadi amal kita semua di bulan Ramadhan. Amiiiiin. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA.

Kamis, 14 Juli 2011

Kisah Sukses Anak mantan TKW

Beberapa hari yang lalu saya sudah posting tentang TKI yang BERKARYA TANPA GELAR SARJANA di Malaysia. Kali ini saya juga akan menulis kisah anak seorang mantan TKW Arab yang juga sukses tanpa gelar sarjana. Semoga kisah ini bisa menjadi motivasi bagi pembaca semua, yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke universitas karena masalah biaya.

Tubuh mungilnya hadir ke dunia ini saat matahari beranjak tenggelam ke peraduan. Warna keemasannya mulai tergantikan oleh kegelapan malam (Halah sok puitis). Kalau orang jawa bilang 'surup'. Seperti biasa, adat orang jawa yang suka nganeh-nganehi mengatakan "bayi yang lahir menjelang malam (surup) harus dibuang dan harus diambil orang, baru dikembalikan ke orang tuanya lagi". Maka, tubuh mungil yang masih merah itu di letakkan di tegalan (pekarangan belakang rumah). Dan seorang nenek mengambilnya lalu di serahkan kembali ke orang tuanya.


Saat usianya belum ada selapan (35 hari) ada yang meninggal dunia dan Ibu si bayi makan makanan dari rumah orang yang meninggal (bahasa jawanya: segone wong mati). Dan apa yang terjadi???? Tiba-tiba tubuh bayi mungil itu penuh dengan bintil-bintil merah, Yang kata orang namanya SAWAN. Berbagai macam obat sudah dicoba termasuk bedak Salicyll (kalau ga salah). Setelah dikasih bedak, bintil-bintil merah itu mulai kering dan mengelupas. Kulit si bayi pun mirip seperti sisik ular yang menjijikkan. Tapi setelah itu bisa sembuh dan berubah seperti kulit bayi pada umumnya.

Tidak hanya sampai disitu penderitaan si bayi, mungkin pertahanan tubuhnya kurang baik. Sehingga masa kecilnya akrab dengan yang namanya obat dan dokter. Sampai-sampai pak dokternya hafal dan kenal baik dengan dia. Bahkan pak dokter bertanya "putranya cuma satu ya bu??" Padahal bayi itu punya kakak perempuan. Karena sakit-sakitan mulu, dia pernah ga naik kelas waktu TK lho....

Disaat dia masih kelas 2 SD, masa-masa manja dan butuh belaian kasih sayang, Ibunya harus pergi meninggalkannya jauh ke negeri Arab. Waktu ibunya pamit mau pergi jauh, dia selalu meriang. Mungkin ga mau ditinggal, tapi Pakliknya pergi ke rumah pak Kyai dan dikasih do'a yang membuat dia tetap ceria meskipun ibunya pergi jauh. Tinggallah dia bersama ayah dan kakak perempuannya yang masih kelas 5 SD. Rupanya penyakit belum mau pergi dari tubuhnya. Setelah  Ibunya pergi, telapak tangan kanannya tiba-tiba keluar bintil-bintil yang berisi nanah. Tangan mungil itu kaku ga bisa menggenggam, apalagi kalau nanah itu pecah tangan itu semakin menjijikkan. Berbagai obat diberikan dan dengan telaten ayahnya merebus dedaunan obat dan merendam tangannya dengan air itu. Dan perlahan tangan itu sembuh.

Bersama berjalannya sang waktu, bocah inipun beranjak besar. Prestasinya di sekolah benar-benar tidak mengecewakan. Waktu SD ga tahu kenapa NEM nya jatuh tapi bisa masuk SMP negeri dan selalu masuk kelas favorit (kelas yang siswanya pinter semua). Lulus SMP dengan NEM yang lumayan tinggi, dia hanya di terima di SMK N 1 MADIUN jurusan bangunan. STM satu-satunya di madiun yang negeri. Banyak yang menghina "wong mau ngudek luluh (kuli bangunan) ae kok musti sekolah, mbok belajar sama bapakmu saja". Karena kebanyakan di terima di jurusan Mesin, Elektro tapi STM swasta. Dia tetap semangat sekolah dengan semboyan "Jurusan bangunan ga masalah yang penting negeri"

Saat dia kelas 3 STM, ibunya pensiun jadi TKW. Untuk biaya sekolah dan hidup, Ibunya  jualan jajan keliling dan bapaknya sebagai tukang bangunan. Kakaknya yang saat itu kerja di HongKong, masih masa potongan gaji tidak bisa membantu banyak. Bahkan saat harus bayar biaya kursus komputer, ibunya harus menjual cincin kenang-kenangan dari ARAB. Rupanya, kerja keras orangtuanya tidak sia-sia. Karena dia lulus STM dengan hasil yang sangat memuaskan. Dan kebetulan ada bapak temannya yang butuh tenaga karyawan.

Dengan modal nekad, dia berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja. Saking nekadnya sampai-sampai sepatu saja tidak punya. Akhirnya dia pakai sepatu pinjaman untuk bertemu dengan boss. Di Jakarta dia memulai karirnya sebagai tenaga gambar yang hanya memiliki ijasah komputer dan ijazah STM. Mulai dari merangkak, berdiri, belajar melangkah, sampai akhirnya dia bisa berjalan langkah demi langkah. Mulai dari gaji kecil di perusahaan kecil hingga saat ini sudah 7 tahunan dan akhirnya dia mampu bekerja di salah satu perusahaan Kontraktor yang lumayan besar di Tangerang.

Dari gajinya yang lumayan, dia mampu membiayai kuliahnya sendiri. Saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Mercu Buana jurusan Civil Enginering semester 3 mau ke semester 4 di usia 26 tahun. Memang telat sich.....tapi bagi saya tetap hebat. Bayangkan saja, anak mantan TKW, anak penjual jajan keliling dan kuli bangunan yang hanya lulusan STM bisa mendapatkan posisi bagus di perusahaan tanpa ada embel-embel uang puluhan juta. Rumusnya KEBERUNTUNGAN + KECERDASAN - GELAR - UANG= KESUKSESAN.
Tuntutan pekerjaan yang membuat wajahnya lebih tua dari umurnya.
Asline emang sudah tua kali yach xixixixi

Dia bocah pesakitan itu, dia bocah yang sukses itu, dia yang sekarang jadi mahasiswa itu adalah adik kandung saya. Yang kemarin tanggal 13 juli usia nya menginjak 26 tahun. Tulisan ini saya tulis sebagai kado ulang tahun dan sebagai  bukti kebanggaan saya kepadanya. Yang mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa jurusan bangunan bukanlah sejek-jeleknya jurusan dalam sekolahan. Kalau mau bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berdo'a pasti ALLAH akan memberikan jalan untuk kita. So, tetap semangat.....

Happy birthday to you my brother.....
Semoga dengan bertambahnya umurmu bertambah pula kedewasaanmu
Di dekatkan jodohmu dan dilancarkan rejekimu
Pokoke sukses dunia akhirat. Amiiiiin
(Kue yang aku beli tahun lalu dan sempat cam to cam dengan dia.
Tapi tahun ini terlalu sibuk ga sempat memberi yang special buatmu
maafkan mbakmu yach........)


Sabtu, 02 Juli 2011

BERKARYA TANPA GELAR SARJANA

Posting yang lalu ada sahabat yang salut dengan saya (halah GR). "TKW kok menyempatkan diri untuk nge blog, belajarnya sama siapa???". Dari comment itu jadi tertarik untuk membuat posting kisah sukses TKI/TKW. hihi semoga mampu. Amiiiin

Kenapa saya bisa ngeblog meskipun saya seorang TKW??? Lihat kisahnya DISINI. Dan Orang yang telah mengenalkan saya dengan dunia Blog yaitu Kang Alie Lonk dan Mas Yatnoz yang dengan sabar membimbing saya lewat chat (kadang tak tinggal tidur hikz). Kebetulan 2 orang tersebut kerjanya di Malaysia. Bukan jadi kuli lho. Mas Yatnoz bekerja di salah satu perusahaan di Malaysia (perbatasan brunei) sebagai supervisor. Hanya sebatas itu yang saya tahu. Maklum saya bukan orang yang mau tahu privacy orang hikz. Untuk sementara ini Mas Yatnoz mogok dari ngeblog. Tapi dari beliau saya belajar banyak. Ga hanya tentang blog tapi tentang berbagai hal. Terima kasih mas Yatnoz.......


Nach......seperti janji saya diatas, posting kali ini saya akan meng obok-obok kisah seorang Blogger dan kuli yang sering mengungkapkan kritiknya kepada pemerintah lewat puisi-puisinya (langsung ke TKP).  Kang Alie yang tidak mau di bilang guru ini punya semboyan "BUAT APA SEKOLAH NEK ORA PINTER". Saya belajar banyak hal darinya. Kang Alie dengan sabar membantu saya terutama masalah blog lewat chat. Bisa dibilang saya agak gaptek dan lemot ga gampang ngerti kalau diajari. Tapi tetap setia membantu saya. Yach.... semoga saja hatinya ga gregeten hihihihi.

Kang Alie bukan sarjana (mungkin SD saja ga lulus hohoho) tapi mampu berkarya di negeri tetangga yaitu Malaysia. Meskipun bukan seorang Insinyur tapi  mampu menghasilkan karya spektakuler berupa HOTEL. Pernah dengar juga, tulisan-tulisannya yang berupa puisi dan cerpen sudah diterbitkan. Tapi untuk koleksi pribadi atau untuk dijual saya kurang tahu. Yang jelas bukunya belum sampai HongKong. xixixixi. Inilah beberapa karyanya yang sekarang berdiri megah di malaysia. Lebih lengkapnya bisa anda intip di album Facebooknya yang berjudul Aku hanyalah antara puisi dan kuli.
Hotel Suan Bee.Tmn Sutera Utama,Johor Bahru.
Inilah hasil karya dan titik peluh tahun 2007/2008- Alie Lonk cs (U&I Quality).  
"Terus terang inilah job pertamaku membangun sebuah hotel" katanya.

Hotel Vistaria.Tmn Austin Height (Mount Austin),Johor Bahru.
Karya Alie Lonk cs (U&I Quality) ditahun 2008/2009.
"Job kedua tuk belajar merentangkan sayap kecilku" katanya.
Hotel S Bee. Tmn Munsy Ibrahim. Johor Bahru.
Opening soon.Terbaru di 2011
"Disinilah sekarang puisi aku pancangkan ditiang angan" katanya.

Luar biasa bukan???? Orang ini waktu di Indonesia jadi bahan olokan. Karena  tidak sekolah dan mungkin tidak mampu mendapatkan gaji gede. Yang sempat membuat saya tertawa ngakak adalah ucapannya yang dikasih nama 'M10' disingkat Madep Manteb Mangan Melu Morotuwo. Morotuwo Muring-Muring Mlayu Menyang Malaysia. Sekarang pelariannya membawa kesuksesan dan bisa membawa anak istrinya ikut serta ke Malaysia.

Orang selalu mengandalkan pendidikan sebagai patokan untuk mendapatkan kesuksesan. Bahkan cenderung, hanya yang punya gelar sarjana yang bisa mendapatkan posisi wah di sebuah perusahaan. Kalaupun ada orang tanpa gelar bisa mendapatkannya, mungkin hanya sebagian kecil saja karena faktor keberuntungan dan kecerdasan pastinya. Jangankan yang tanpa gelar, yang punya gelar pun kadang hanya bisa jadi pegawai rendahan. Mungkin inilah salah satu faktor kenapa banyak yang milih kerja di luar negeri. Yach..... karena di Indonesia gelarnya tidak dihargai. Yang lebih keren sekarang, untuk mendapatkan posisi layak sederet angka 7 digit bahkan 8 digit harus dipenuhi. Sekolahnya sudah mahal, untuk mendapatkan kerja juga mahal. Intinya "Kaya dululah kalau mau jadi orang kaya". Weleh-weleh, mungkin setelah kerja bukan sibuk mikirin pekerjaan tapi mikirin bagaimana duitnya bisa kembali. "Eittttts jangan emosi ga semuanya seperti itu kali....." hehehe.
 
Cukup sekian celoteh saya. Disini saya tidak bermaksud menghina atau menjelekkan siapapun. Ini hanyalah suara hati seorang TKW yang lebih tepatnya terpaksa harus lari ke luar negeri. Bukan karena ga bisa makan atau karena hidup kekurangan, tapi karena ingin mendapatkan gaji jutaan. Agar bisa membangun sebuah usaha di Indonesia. Dan bisa mengurangi pengangguran yang saat ini merajalela. Semoga Allah mendengar setiap barisan do'aku. Amiiiiiiiin