Tampilkan postingan dengan label Kopdar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopdar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Kopdar (Lagi) Bareng Mbak Reni

"Mas, nanti minta kado ya?"
"Iya"
"Kadonya anting-anting ya?"
"Hah? harganya berapa?"
"Ya mas ya.... mumpung harganya lagi turun"
"Ya sudah. Tapi uangnya nyicil ya. Lumayan masih ada waktu sebulan buat ngumpulin uang."
"OK. yang penting hari H ada anting-anting".

"Sama minta kue ya mas?"
"Kue?"
"Ya mas ya....murah kok cuma 45 ribu?"
"Iyo...."
"Oh iya mas, ndak jadi minta kue lah... minta baju aja"
"Minta kado kok banyak eram"

"Eh...eh... satu lagi, minta jalan-jalan ke Madiun boleh ga mas?. Nanti ketemuan sama mbak Reni"
"Mbak Reni siapa?"
"Mak Reni yang dulu pernah ketemu di kantornya. Waktu kita baru pulang.....Ya mas ya...."
"Yowes lah"
"Beneran ya...."
"Iya...."

"Asyik"

Itulah percakapan iseng dengan suami menjelang hari ultah saya, yang akhirnya membawa saya ke Madiun dan bisa kopdar lagi dengan mbak Reni pemilik blog Catatan Kecilku. Kalau dulu kopdarnya ketika saya baru pulang dari Hong Kong dan berasa kayak pengantin baru karena hanya berdua sama suami. Tapi kopdar minggu 16 juni kemarin, kami tak lagi berdua tapi sudah bertiga sama Alfi dan sedikit rempong karena harus bawa perlengkapannya Alfi.

Mbak Reni ngajak ketemuan di Plaza Madiun jam 10, tapi saya telat karena suami masih ada urusan lain, dan baru sampai plaza Madiun jam 11 lebih. Sebenarnya mbak Reni sudah kasih tahu kalau lagi jalan-jalan di Gramedia, tapi saya ndak tahu tempatnya. Maklum, meskipun orang Madiun tapi ndak pernah main ke Plaza Madiun. *katrok ya* hikz.

"Di lantai 3", jawab mbak Reni. Kamipun segera naik ke lantai 3 dan celingukan cari mbak Reni. Tak begitu sulit untuk menemukan mbak Reni, karena kami sudah pernah bertemu. Tapi mbak Reni nampak lebih muda dengan pakaian biasanya (bukan pakaian kantor). :).

Begitu ketemu, langsung cipika cipiki kemudian mbak Reni memberi hadiah untuk Alfi (Emaknya yang ultah, Alfinya yang dapat hadiah, Hikz). Mbak Reni juga gemes sekali lihat Alfi yang gendut dan imut-imut. Untung saja mbak Reni ndak membelikan Alfi baju tapi boneka. Kalau dibeliin baju pasti ga muat dech, kata mbak Reni.

Setelah cari tempat, Alfi digendong bapaknya sedangkan saya sama mbak Reni pesan makanan. Sambil nunggu makanan datang kita ngobrol ngalor ngidul, tapi kebanyakan ngomongin kegiatan saya dan bercanda sama Alfi dech kayaknya. hehe.

Alfi nampak gembira sekali lihat lampu-lampu yang banyak. Alfi juga ndak nangis ketika di gendong Mbak Reni. Biasanya Alfi suka nangis kalau baru pertama kali ketemu sama orang. Tapi kalau orang itu kasih sesuatu, biasanya Alfi langsung mau digendong maupun diajak bercanda. "Wah bahaya ini", kata mbak reni. Kalau yang kasih sesuatu penculik gimana?  Tapi saya yakin, Alfi tahu mana yang orang baik, dan mana yang orang jahat. :).

Satu persatu makanan datang, bapaknya Alfi makan dulu kemudian ngajak Alfi jalan-jalan lagi. Saya sama Mbak Reni melanjutkan ngobrol lagi sambil makan. Sayang sekali mbak Reni sudah makan nasi uduk buatan ibuknya jadi makannya cuma sedikit. Padahal saya sudah pesan sushi 2 porsi. "Kok banyak pesennya mbak", tanya mbak Reni. Saya kira sushi di Plaza Madiun sama kayak sushi di Hong Kong, yang 1 porsinya cuma 3 atau 4 biji doang, tapi disini ada 8 biji/porsi. Akhirnya dibungkus saya bawa pulang dech. :).

Tak lama kami selesai makan, Alfi mulai rewel dan minta minum ASI. Sempat bingung juga gimana kasih ASInya, tapi mbak Reni menyarankan untuk pergi ke Mushola. Tapi di Mushola banyak orang, karena memang waktunya sholat dhuhur. Setelah celingukan, saya lihat ada kursi yang tempatnya agak mojok. Ya sudah.... mojok disitu aja sama Alfi. Setelah minum ASI sebentar, Alfi ceria lagi dan kami kembali gabung dengan mbak Reni.

Kemudian mbak Reni ngajak kami foto bareng, karena kopdar yang dulu ndak ada foto. Alfi yang tadinya duduk manis, mendadak nangis begitu bapaknya ngambil foto kami. Tapi setelah diajak berdiri dia berhenti nangis.

 Pertemuan singkat tapi sangat berkesan. :) 

 Food Republic, mengingatkan saya akan Hong Kong. Di Hong Kong tempat ini adalah tempat makan favorit yang pas di hati, pas di kantong dan banyak pilihan makanan dari berbagai negara.

Setelah foto, saya pamitan sama mbak Reni karena Alfi kelihatan sangat capek dan ngantuk. Kamipun berpisah, tapi saya mampir ke Gramedia dulu cari buku dongeng buat Alfi. Alhamdulillah dapat dengan harga murah meriah. Setelah dapat beberapa barang yang kami inginkan, kami segera pulang. Karena sudah ngantuk berat, Alfi sudah tertidur sebelum sampai tempat parkir.

Boneka hadiah dari Mbak Reni langsung di uyel-uyel sama Alfi.

Terimakasih atas waktunya Mbak Reni.... Semoga lain waktu bisa bertemu lagi dengan suasana yang berbeda.


Selasa, 10 Juli 2012

Reuni Bareng Orang Korea


"Wong ndeso, rejeki kutho (orang desa rejeki kota)", mungkin itulah peribasa yang pas untuk teman saya  yang saat ini menjadi istri orang Korea dan berdomisili di Seoul, Korea. Siapa yang menyangka,kalau gadis desa yang sempat kecewa karena tidak masuk 10 besar waktu lulusan SMK itu sekarang pandai berbahasa Korea dan bekerja sebagai Translator in KBS (Kedutaan Besar Seoul), Translator in Seoul Global Migrant Centre, dan MC in Radio KBS. 


Sama-sama wanita tapi beda nasibnya :). Tapi tetap bersyukur dong. 

Sebagai murid yang pandai cas cis cus bahasa Ingris, dan mata pelajaran lain, besar harapannya untuk bisa jadi 10 besar. Namun kenyataan tak seindah harapan, karena nilai yang tertera saat lulusan sangat mengecewakan. "Kasihan", itulah ucapan sebagian teman.

Namun, nilai bagus bukan menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang, melainkan kerja nyata dilapangan. Mungkin karena prestasinya waktu kerja di Jakarta, sang boss yang asli orang Korea itu kesengsem dengan dia lalu menikahinya. Setelah belajar bahasa Korea diapun diboyong ke Korea, hidup disana bersama suami dan anaknya yang berumur 8 tahun dan menjadi wanita karier disana.

Itulah sekelumit cerita yang saya tahu tentang teman SMK saya itu. Dan alhamdulillah, meskipun sudah jadi orang Korea tapi dia tetap ramah dan tak lupa dengan teman-temannya. Tanggal 2-9 Juli kemarin dia datang ke Indonesia bersama suami dan anaknya serta 2 orang kru TV Korea. kedatangannya ke Indonesia dalam rangka dinas, jadi dia tak punya banyak waktu untuk bersantai-santai.

Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk mengadakan reuni sebelum berangkat ke Korea lagi. Saya yang memang sudah lama tidak bertemu dengannya, menyambut gembira undangan tersebut dan mengabari teman-teman yang lain. 
 Dia tidak menyangka kalau yang hadir banyak sekali 

Malam minggu kemarin, saya dan teman-teman dari Madiun selatan berangkat bareng ke rumah dia. Meskipun sempat bertanya-tanya karena jalannya sudah lupa, akhirnya kami sampai di rumah dia. Sambutan hangat kami terima ketika dia melihat kedatangan kami. Dia memeluk kami satu persatu sambil menyebut nama kami. Ach.... rupanya dia masih mengingat kami. Dan yang bikin kami risih, ada sorot lampu shooting mengarah kepada kami. Ya.... ada kru TV Korea merekam peristiwa langka ini. Kira-kira wajah kita masuk TV Korea ga ya??? *Ngarep* hehe.

Diskusi dengan salah satu kru tentang acara selanjutnya

Ternyata, acaranya bukan reuni biasa. Ada acara dangdutan dan juga menyalakan kembang api. Saya yang dari dulu hanya bisa melihat kembang api dari kejauhan, malam itu saya bisa melihat letupan-letupan kembang api di atas kepala saya. Pokoknya heboh banget acaranya, banyak warga sekitar yang nonton acara tersebut. Kapan lagi ada kembang api seperti itu kalau bukan di TV. 

Dan kamipun pamitan ketika jam menunjukkan angka sembilan. Semoga, ALLAH masih mempertemukan kita lagi dalam suasana yang lebih membahagiakan. Terimakasih atas sambutan hangatnya, terimakasih atas kenang-kenangannya. Selamat bertugas kembali bersama TKI Korea ya kawan.....

Kamis, 08 Desember 2011

Kopdar Bersama Pakde Cholik Plus

Senin 21 nopember 2011, akhirnya saya bisa kopdar dengan Pakde Cholik plus di Delta Plaza Surabaya. Plus Budhe Ipung, Mbak Sandy dan si kecil Bella, serta Mbak Yuni Shara (yang datangnya menyusul). Dan anehnya, saya tidak ingat sama sekali kalau ada Mas Gaphe di Surabaya. Sehingga saya tidak menghubungi beliau. Padahal saya punya nomer HP nya. Hikz, maaf ya mas Gaphe :).

Saya, suami dan adek berangkat dari rumah jam 6 pagi. Molor 1 jam dari rencana awal karena pakai acara mulek. Kami motoran sampai jalan besar, motor dititipkan dan bapak yang ngantar adek langsung pulang. Tak lama kami menunggu, Bus datang dan membawa kami menuju Surabaya. 


Adek saya yang awalnya ga ada rencana ikut kami, akhirnya bisa ikut juga karena dapat tiket Surabaya-Jakartanya jam 18.30. Daripada luntang lantung di Bandara sendirian, ya sudah saya ajak sekalian. Inilah akibatnya menyepelekan waktu. Masa hari ini berangkat hari ini baru pesan tiket. Akhirnya dapat tiketnya juga telat. Padahal sudah janji sama boss mau masuk kerja. "Matiin HP aja biar boss ga bisa nyariin" kata dia. Bener-bener karyawan teladan yak.

Sekitar jam 11 kami sampai Surabaya, kami segera menuju ke Jln P. Sudirman naik Taxi. Sampai tujuan, suami segera menyelesaikan urusannya dan saya SMS pakde menanyakan dimana tempat kopdarnya. Pakde menyebut Delta Plaza yang kata orang ga jauh dari Jln P. Sudirman. Tapi kami milih naik becak daripada jalan kaki, takutnya malah ga ketemu. Jadinya kami naik becak bertiga sampai Delta Plaza.

Tamu dari Luar Negeri
Foto dari tempat Pakde, karena saya ga punya camera. Wuehehe

Sampai di Delta Plaza, saya langsung telp pakde tapi ga diangkat. Kami jalan-jalan sebentar sambil lihat-lihat barang (padahal ga mau beli). Terus saya telp pakde (lagi), diangkat, Pakde bilang suruh nunggu di BreadTalk, "toko roti yang ambune wuangi itu lho" kata pakde. 

Saya nunggu sebentar dan tolah-toleh, mata saya tertuju pada eskalator dan disana ada sosok yang sangat saya kenal. Wajahnya ga asing dan masih nampak jauh lebih muda dari usianya. Saya langsung senyum dan berjalan mendekati beliau. Kami langsung salaman "Selamat Datang di Tanah Air" kata beliau sambil menyalami kami. Kayaknya bilang gitu atau saya salah denger ya?? Hehe.

Setelah saya panggil adek yang kebetulan lagi duduk di dalam, kami segera naek dan disana sudah ada budhe Ipung, Mbak Sandy dan si kecil Bella yang langsung akrab dengan kami meskipun baru bertemu. Pakde mengajak kami ke tempat makan. Pokoknya kopdar kalau ga makan ya kecuuuuut ya pakde. Dan alhamdulillah, kami di traktir sama Pakde. Saya agak sungkan (sungguh-sungguh mengharapkan), sudah mengganggu waktu pakde, pakai di traktir pula. ini namanya rejeki ya.

Kami ngobrol ngalor ngidul di selingi gelak tawa. Apalagi kalau lihat ulah si Bella yang pintar dan selalu bikin kami ketawa serta senyum-senyum. Kayaknya ga ada rasa takut ama orang yang baru dia kenal. Wes pokoknya nggemesin gitu lho hehe.

Karena keterbatasan waktu kami, selesai makan kami pamitan. Hanya sebentar pertemuan kami, tapi sangat berkesan. Ada ilmu yang saya dapat dari obrolan dengan Pakde. Ada sebuah persahabatan duania maya yang terwujud dalam duania nyata. Sangat Indah dan penuh arti. Terima kasih atas waktu dan traktirannya Pakde..... Semoga masih ada kesempatan kopdar lagi dengan moment yang lebih enak *Ga diburu bola lagi. Hikz*.

Kami naik taxi lagi ke Terminal, saya langsung cari bus ke Madiun dan adek cari Damri ke Bandara. Jam 15.00 saya naik bus, dan jam 15.45 bus baru beranjak meninggalkan terminal. Suami saya langsung manyun karena bakal ga bisa lihat bola. Untungnya kami naik bus Patas sehingga ga sering berhenti, dan alhamdulillah kami sampai rumah hampir jam 9. Lumayan..... masih ada kesempatan nonton bola. Hehe.




Jumat, 25 November 2011

Identitas Palsu Dan Kopdar

Sebelumnya saya mohon maaf kalau tidak sempat balas comment atau Blogwalking, karena saat ini saya hanya pakai internet dari laptop, tidak pakai HP. Jadi tidak bisa di bawa kemana-mana. Alasannya... belum ada income masuk jadi harus ngirit gitu loh. Hihihi. Sekian sekilas Info.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah bilang kalau gara-gara alamat palsu saya bisa kopdar dengan Mbak Reni tanpa foto. Beberapa tanggapan para sahabat langsung menjurus ke Ayu Ting-Ting, padahal saya ndak kenal siapa itu Ayu Ting-ting *katrok* hehe.


Senin, 14 Nopember saya sudah pergi ke Madiun Kota untuk mengurus seuatu di BC*. Dan waktu itu saya sengaja tidak berniat untuk kopdar dengan mbak Reni. Saya pikir, nanti sajalah kalau semua urusan selesai baru kopdar. Dan hari itu saya memutuskan untuk silaturahmi ke rumah mantan boss saya dulu, setelah itu mengunjungi sahabat saya yang rumahnya satu jalan dengan si Boss. 

Setelah acara silaturahmi selesai, saya langsung meluncur ke BC*. Ketika masuk, seorang satpam menyambut kami. Saya sempat tolah-toleh karena ga tahu harus gimana dan agak malu saya tanya ke pak Satpam saja. *keliatan katroknya* "Pak kalau mau ngurus ini gimana ya??" tanya saya. Pak Satpam menyarankan saya untuk ambil nomer antrian dulu. Nomer antrian sudah ditangan dan harus menunggu sekitar 10 orang. Yang setiap orangnya bisa sampai 10-15 menit dengan 2 counter. Suami saya sempat ngomel, karena nunggunya lama banget.

Setelah giliran saya, petugas ketak-ketik mencocokkan data di komputer dengan identitas yang saya bawa.   "Lho kok tahun lahirnya tidak sama mbak??". Saya pun berusaha menjelaskan kepada petugas kalau KTP saya hilang. Dan identitas satu-satunya yang saya punya hanya paspor. Dan sialnya paspor saya dipalsukan oleh pihak PT sewaktu saya daftar jadi TKW Hong Kong. Urusan tak dapat terselesaikan dan petugas menyuruh saya membuat surat keterangan yang ada stempel Desa dan Kecamatan. 

Selasa, 15 nopember saya ke kantor desa untuk membuat surat keterangan lalu ke kecamatan hanya untuk minta stempel dan tanda tangan pak Camat. Setelah selesai, saya minta suami mengantar ke warnet di dekat pasar Pagotan *jauh sekali*. Saya langsung buka blognya Mbak Reni Catatan Kecilku. Dan saya meninggalakan comment sekaligus nomer HP. Tak lama, SMS langsung masuk ke HP saya. Ada undangan dari mbak Reni untuk hadir di Kantornya sebelum jam 3. 

Setelah baca pesan dari mbak Reni, saya langsung mengajak Suami untuk ke Madiun saat itu juga. Kami yang rencananya mau agak sore ke Madiun, saat itu juga (sekitar jam 11an) langsung pulang ambil Helm dan meluncur ke kantornya Mbak Reni. Suami sempat manyun, karena cuaca saat itu sangat panas sekali. Tapi karena sayang sama istri, ya tetap berangkat donk. Hehe

Tak susah untuk mencari lokasi yang ditunjuk Mbak Reni, karena dulu saya juga sekolah di Madiun Kota. Dan setelah parkir motor, saya langsung telp Mbak Reni. Tak lama, seorang wanita berkacamata keluar menyambut kami. Saya langsung mengenalinya karena foto sama aslinya ga jauh beda. Mbak Renipun mempersilahkan kami masuk dan duduk di ruang tamu kantor tersebut.

Kami ngobrol ngalor ngidul dengan akrabnya, seperti kawan lama. Benar-benar tak kelihatan kalau kita hanya kenal di blog melalui tulisan-tulisan serta comment. Mbak Reni orangnya juga enak diajak ngobrol, jadi ga canggung gitu lho. Seperti ga ada perbedaan antara saya dan mbak Reni. Ga nyangka, saya yang hanya TKW bisa berteman dengan seorang pegawai kantoran seperti mbak Reni. Yang sebelumnya sudah wanti-wanti "Mbak kalau nulis tentang kopdar kita, jangan di tulis nama kantor saya ya?". 

Karena saya takut mengganggu aktivitas mbak Reni, saya pun pamit setelah sempat ngobrol beberapa puluh menit. Dan kami juga janjian akan kopdar lagi dengan membawa Sasha putri semata wayang mbak Reni. Tentunya dalam moment yang berbeda, bukan di kantornya mbak Reni lagi. Hehe. Setelah pamitan kami segera meluncur ke BC* lagi untuk menyelesaikan urusan yang kemarin. Dan alhamdulillah, dengan membawa surat keterangan, ga pakai lama urusan saya beres.

Senang banget rasanya bisa bertemu teman ngeblog. Ini semua gara-gara identitas palsu, sehingga saya bisa bertemu mbak Reni secepatnya. Kalau saja, ga ada identitas palsu mungkin sampai hari ini saya belum sempat kopdar dengan mbak Reni dengan alasan sibuk. Terimakasih mbak Reni.... semoga kita bisa bertemu kembali, lengkap dengan foto-foto. Hehe.


Senin, 17 Oktober 2011

Teman Di Awal Perjuangan

"Tut tuuut tut tuuut"  terdengar nada sambung dari seberang sana.

Beberapa detik kemudian, "wai, assalamualaikum" sapa teman saya, Nanda di seberang sana. Pakai salam mentang-mentang saya yang telpon.

"wa'alaikumsalam. wai lei ho, hari sabtu libur apa ndak? Ketemu yuk", Jawab saya.

Setelah basa-basi sebentar, kami menutup pembicaraan karena dia mau masak. Dan keputusannya, hari sabtu ketemuan di kantornya ce Ester, teman kami yang kerja di agen. Dan saya juga telp ce ester mengabarkan rencana kedatangan kami. Takutnya kami pas datang beliau tidak ada di tempat.



Sabtu pagi, hp saya bergetar, "wai, tima??" saya angkat bicara.

"Gimana jadi apa ga?, takutnya aku udah kesana ternyata ga jadi" tanya dia memastikan.

"ya jadilah, aku masih ngepel, terus mandi terus berangkat" jawab saya.

"Oke, setengah 10 ya" kata dia, dan saya mengiyakan.

Saya segera menyelesaikan tugas dan jam 9 saya melangkahkan kaki keluar rumah, menuju toko Indonesia. Rencana mau beli gorengan atau kue. Tapi saat lihat-lihat rak nasi kok ada nasi pecel, ya sudah sekalian ambil 3 bungkus. Saya membayar belanjaan saya yang hanya beberapa puluh dolar tapi dapat 2 kresek makanan. Kalau di tempat lain ya ndak boleh alias lebih mahal. *bilang saja lagi ga punya duit* xixixi.

 Rak nasi, yang menunya sangat menggiurkan dan sesuai dengan isi dompet. hikz

Karena saya pakai acara belanja dulu, si Nanda nya sudah sampai duluan dan beberapa kali telpon. "Dimana???" dan saya selalau jawab, "sebentar masih jalan, tenang, 10 menit naek Teng-teng nyampai kok". Dan saya tidak bohong seperti yang tertulis di artikelnya Kakaakin yang berjudul Era ponsel-era berbohong lho.  Naiknya teng-teng memang 10 menit, tapi ditambah jalan dan nunggu teng-tengnya datang jadinya setengah jam baru bisa ketemu. hehehe.

Setelah bertemu, kami langsung menuju kantor Ce Ester yang jaraknya lumayan jauh dari MTR tempat saya ketemu Nanda. Sepanjang jalan, baunya amis. Karena daerah saya Seung Wan, memang terkenal dengan makhluk laut yang dikeringkan, seperti sirip paus, ikan asin, abalone dll. Ada Western market, yang kata orang (bukan kata saya) juga pusatnya barang-barang tersebut. Mau beli??? Kesini aja..... hehehe.

Singkat cerita, kami sudah ada di kantor Ce Ester. Ngobrol ngalor ngidul, sekali-kali bernostalgia pada jaman remaja (emange sekarang sudah tua??). Sambil ngobrol, saya dan Nanda  makan nasi pecel. Karena Ce Ester sudah sarapan jadi ga ikut makan.
 
 Saya dan Nanda, teman di awal-awal perjuangan saya di Hong Kong

Saya dan Ce Ester, Saya mengenalnya tahun 2003 di PT Surabaya. Sekarang sudah jadi staff agen di Hong Kong. 

Waktu ngobrol tentang kepulangan saya dan rencana-rencana saya, kok sepertinya mereka ga yakin dengan saya ya??? Mereka bilang "Halah pasti setelah punya anak balik ke Hong Kong lagi". Ibu pemilik agennya juga bilang gitu. Arrrrgh benarkah hidup di Indonesia itu susah?? Sampai-sampai banyak orang yang rela meninggalkan anaknya yang masih kecil untuk kembali ke Hong Kong (lagi). Entahlah, saya sendiri tidak tahu.....

Karena di kampung saya punya rencana buka usaha makanan tapi bukan restauran lho ya. Ce Ester kasih saya alamat kursus  memasak yang ada di Surabaya. Ini alamatnya http://www.kursustristar.com/. Katanya, kursus disana bisa dibantu ngurus Surat Ijin usahalah, menyediakan alat-alat membuat kuelah, ada sertifikatnyalah dan fasilitas-fasilitas lain yang bisa mendukung usaha kita. Yach, Insyaallah saya akan coba kalau pulang nanti. Hehehe.

Meskipun banyak orang yang meragukan tekad saya untuk jadi Ibu rumah tangga dan seorang pengusaha di Indonesia. Namun harapan saya, setelah meninggalkan Hong Kong kali ini, saya tidak akan menginjakkan kaki saya ke Hong Kong lagi sebagai pembantu. Kalau sebagai turis itu harus (amin). Ucapan adalah do'a, kalau kita yakin pasti tidak ada yang tidak mungkin bila ALLAH menghendaki. ^_^.

Sabtu, 20 Agustus 2011

SEHARI BERSAMA MBAK DHANA

Di posting yang  Mbak Dhana [bukan] Wanita Biasa, saya sudah menulis tentang terjadinya kopdar antara saya dan  Mbak Dhana/戴安娜 yang disambi-sambi karena mbak Dhana tidak libur. Dan alhamdulillah kami yang waktu itu janjian mau ketemu lagi tanggal 13 agustus, akhirnya terlaksana juga. Sebenarnya hampir gagal karena ada perubahan jadwal boss saya. Tapi berkat nego yang setengah memelas, akhirnya saya bisa libur dengan resiko, jum'at jam 3 siang (panasnya 30 derajat lebih) saya yang lagi puasa harus jalan naik turun ke pasar belanja (lagi). Karena pagi sudah belanja tapi sedikit. Yach sabar.... ada keindahan di balik kesusahan. hikz.


Jam 8 saya sudah keluar rumah dan langsung sms mbak Dhana. Tapi mbak Dhana masih belum berangkat. Karena  saya ga pingin membuat mbak Dhana menunggu, saya langsung saja naik Teng-teng pergi ke MTR. Maklum rumah saya di kampung, ada MTR (kereta bawah tanah) saja belum jadi pembangunannya. Rencananya kami mau ke Big Budha yang berada di Tung Chung. Saya dari Sheung Wan dan Mbak Dhana dari Tuen Muen ketemunya di Lai King. Ga sampai 30 menit saya sudah sampai tujuan dan nunggu mbak Dhana. Namanya Hong Kong, seberapapun jauhnya, masih bisa ditempuh beberapa menit atau jam saja. Kalau di Indonesia??? tahu sendiri khan Indonesia terdiri dari sabang sampai merauke. hehe

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya mbak Dhana datang dan kami berangkat lagi bersama MTR menuju Tung Chung. Keluar dari MTR kami naik bus no 23 menuju Ngong Ping tempat Big Budha bersemedi xixi. Tarif busnya $17.40/orang. Saya disini tidak akan membahas tentang Big Budha karena mbak Dhana sudah lebih dulu posting dan pastinya lebih lengkap di sini. Saya hanya menambahkan yang masih kurang saja yach hehe.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam itu, kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Saya jadi lebih tahu banyak  rahasia hal tentang mbak Dhana. Keluarganya, perjalanan hidupnya, pendidikannya sampai masalah cinta semua dikupas habis. Dari cerita mbak dhana saya bisa ambil kesimpulan kalau perjalanan mbak Dhana untuk menjadi yang seperti sekarang ini tidak semulus kulitnya Dian Sastro (bintang iklan sabun) hihihi. Semua butuh perjuangan dan kesabaran. Tapi salut sama mbak Dhana yang kelihatannya lemah tapi dibalik tubuh ringkihnya yang penyakitan (dulunya) tersimpan kekuatan dan ketegaran yang sangat luar biasa. Perlu dicontoh ini. hehe

Oh iya, saya juga baru tahu kalau mbak Dhana punya saudara kembar lho. Adik kembarnya juga di Hong Kong dan sudah resident Hong Kong. Bukan nikah sama orang Hong Kong tapi melalui proses yang rumit sehingga bisa lepas dari gelar TKW dan jadi ibu rumah tangga di Hong Kong. Saat ini suaminya sudah dibawa kesini (barang kali pakai di bawa-bawa hehe) dan bisa bebas keliaran di Hong Kong tanpa ada ikatan pekerjaan dengan majikan seperti saya dan mbak Dhana. Hebat-hebat yach 2 bersaudara kembar ini.

Bus membawa kami naek pegunungan yang hijau dan menanjak. Biasanya sich saya mabuk tapi sama mbak Dhana kok gapapa yach??? Biasanya mbak Dhana juga ngantuk'an (katanya), tapi juga betah tuch cerita terus. Dan ketika sampai tujuan, kami merasa asing dengan suasananya. Saya pernah ke tempat ini desember 2007 dan mbak Dhana juga 4 tahun yang lalu. Sekarang lokasinya keliatan luas sekali. Yang dulunya hutan sekarang sudah nampak bangunan-bangunan yang kanan kirinya patung-patung. Pokoknya indah banget dech hehe. Kami berjalan lumayan jauh sambil menikmati pemandangan sekaligus bule-bule yang pada pakai caping nggunung (topinya petani). Serasa di Indonesia kata mbak Dhana. hehe

Gambar ini saya ambil waktu baru turun dari bus dan beberapa puluh langkah masuk ke lokasi Patung Budha.

 Kalau yang ini saya ambil pas di bundaran yang apabila ngomong atau teriak suara kita mantul ke telinga kita sendiri seperti di gua, padahal ini di tempat terbuka lho. Patungnya tinggi banget khan??? Ada yang bilang "saya kuat ga ya naik kesana??" Pasti kuat, kami yang hari itu puasa saja kuat kok. Karena tangganya setiap 15 tingkat dikasih jarak 2 meteran baru naik lagi jadi ada kesempatan melemaskan otot hehe.




Cerita bersambung =>>>commentnya nanti saja xixixi

Minggu, 31 Juli 2011

Dhana Arsega/戴安娜 [bukan] hanya WANITA BIASA

Setelah beberapa jam menunggu di bawah rumah saya sambil kasih makan nyamuk-nyamuk nakal. Akhirnya saya bisa kopdar (kopi darat tapi minumnya teh) dengan seorang Blogger di penghujung bulan juli yang kebetulan juga penghujung bulan Sya'ban menjelang bulan suci Ramadhan. Beliau adalah seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) Hong Kong juga, seperti saya tapi tugasnya beda. Kalau saya tugasnya sebagai pembantu rumah tangga, kalau beliau sebagai pembantu manager merangkap tukang bersih-bersih dan wira-wiri keliling ASIA. Bahkan tahun ini telah menyelesaikan pasca sarjananya dan insyaallah akhir bulan ini akan wisuda. Yang katanya akan dapat gelar MBA (Master of Business Administration).  Inilah yang dinamakan satu profesi beda prestasi. Hebat khan??? Siapa dulu suaminya??? xixixixi (ga nyambung)


Pasti sahabat blogger sudah tahu dengan siapa saya kopdar. Ya.... siapa lagi kalau bukan Mbak Dhana, wanita biasa yang serba bisa. Dengan mudah saya bisa menemukan tempat yang ditunjuk mbak Dhana untuk bertemu. Karena dulu saya juga pernah kerja di daerah itu. Alhamdulillah saya datang dulu tidak membuat beliau menunggu. Sempat berpikir, "Kalau ketemu bisa mengenali mbak Dhana ga ya???" Karena saya pernah kopdar dengan teman facebook yang foto sama orangnya sangat amat jauh berbeda sekali. Tapi lain dengan mbak Dhana, waktu saya duduk dari jauh beliau sudah senyum duluan. Jadi saya yakin inilah mbak Dhana. Yang ternyata ga jauh beda dengan fotonya. Wanita sederhana yang Tingginya hampir sama dengan saya tapi postur tubuhnya kurang lebih separo dari tubuh saya alias langsing xixixi.

Bagai teman lama yang tak berjumpa, kami langsung cas cis cus pakai bahasa jawa campur indonesia. Awalnya jadi pesiennya mbak Dhana, saya di cek tekanan darah dan test darah (punya penyakit deabetes ga??). Yang hasilnya, tekanan darah kurang tapi yang lain-lain normal. Dari sini saya kagum pertama kalinya, ternyata mbak Dhana juga magang di rumah sakit dan akrab dengan serba serbinya rumah sakit. Bukan hanya akrab dengan dunia maya saja rupanya. hehe

Setelah cerita ngalor ngidul tiba-tiba, ceritanya kok menjurus ke masalah pribadi. Saya bilang "Saya nikah 2 minggu terus balik Hong Kong lagi mbak". Mbak Dhana jawab "Lha aku malah nikah 5 hari tak tinggal ke Hong Kong lagi". Saya mlongo, ternyata ada yang lebih menyedihkan dari saya. Tapi suaminya Mbak Dhana sempat kerja di Hong Kong 4 bulan. Kesempatan kangen-kangenan kali yach??? (sok tahu xixixixi). Dan lagi-lagi saya di buat kagum untuk yang kedua kalinya, ternyata usia mbak Dhana 2 tahun lebih muda dari saya. Tapi prestasinya jauh beberapa tingkat diatas saya.
 
Sebenarnya mbak Dhana ga libur, tapi sedang mengunjungi nenek (ibu dari boss nya), jadi kopdar kami tidak murni (kaya emas saja) tapi disambi-sambi). Bagi saya tidak masalah, pertemuan ini yang pertama dan yang terakhir di siang hari tanpa puasa. Karena sekarang sudah puasa dan insyaallah sebelum lebaran mbak Dhana sudah pensiun, mau mengabdi pada suami dan negeri sendiri. Terus bulan 11 saya juga pensiun menyusul mbak Dhana. Tak selamanya to kita ikut orang terus, saatnya menikmati udara segar kampung sendiri. Kata pepatah "Seenak-enaknya di negara orang, masih enak di negara sendiri". Betul apa betul?

Saking baiknya sama majikan, saya pun di ajak makan vegetarian food bareng nenek mbak Dhana. Sebenarnya malu tapi mau xixixi. Habis makan, kami berpisah dan saya menikmati taman dekat rumahnya nenek mbak Dhana. Eh tiba-tiba mbak Dhana telp lagi katanya mau ke pasar. Ya sudah akhirnya nemenin belanja mbak Dhana setelah itu berpisah dan saya pun langsung ke CausWayBay Taman Victory. Dapat ampau merah dan jajan dari mbak Dhana xixixi.
nich mbak Dhana kalau lagi belanja, xixixixi nyolong ini. 
yang dari depan belum sempat dikirim ke saya

Pertemuan singkat namun sangat berkesan. "Semoga pertemuan ini membawa berkah". Kata mbak Dhana. Saya hanya bisa meng Amini do'a mbak Dhana. Semoga masih bisa bertemu sekali lagi sebelum mbak Dhana pensiun. Yang katanya mau di ajak ke Lantau Island (lihat goggle map). hehe

Kesan saya terhadap Mbak Dhana, beliau wanita mandiri (sejak SD sudah hidup jauh dari orang tua), sederhana, berwawasan luas tapi tetap rendah hati, mau bergaul dengan siapa saja. Buktinya tiap ketemu anak Indonesia selalu disapa ramah padahal tidak kenal. Dan yang membuat saya salut, jiwa sosialnya luar biasa. Untuk yang satu ini saya ndak berani buka. Ntar dikira riya', biarlah Mbak Dhana dan Allah saja yang tahu. hehehe. Pokoknya mbak Dhana adalah [bukan] hanya wanita biasa. Bukan menyanjung tapi inilah kenyataan yang ada. Semoga tidak menjadikan mbak Dhana sombong dan tetap rendah hati. Amiiiin.

Eh iya, mbak Dhana juga lagi buka paket hemat di bulan Ramadhan. Beli Hosting+domain ada nilai amalnya lho. Hayo yang belum beli segera hubungi mbak Dhana, harganya Rp. 150.000. Saya bukan sales, yang di gaji oleh mbak Dhana lho, tapi hanya membantu menyebarkan informasi. Moga jadi amal kita semua di bulan Ramadhan. Amiiiiin. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA.