Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Cinta Tanpa Hiatus


"Dek, kamu tahu kenapa aku ndak suka motor ninja?"

"Karena kamu ndak bisa beli khan?"

"Bukan...."

"Lha terus kenapa?"

"Karena bensinnya campur, campur surung (dorong)", sambil menunjuk seorang cowok yang menuntun motor ninjanya karena kehabisan bensin.

"Hahaha", tawaku pecah melihat cowok itu terseyok-seyok seperti keberatan bawa motornya.

"Mending kita ya, biar motor jelek yang penting jalan terus. Sama seperti cintaku padamu, cinta tanpa hiatus.  Dari dulu kamu masih pakai putih abu-abu, sampai sekarang kamu jadi ibu, hingga nanti memutih rambutmu, cintaku padamu tak akan pernah berkurang sedikitpun. Pokok'e tak akan lelah aku mencintaimu.

"Cie cie.... sok puitis" kupukul mesra pundak suami dan tawa kamipun pecah penuh kemenangan ketika motor kami mendahului cowok tersebut.

Cinta Tanpa Hiatus
Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cinta Tanpa Hiatus

Kamis, 23 Januari 2014

Pakai Clodi, Irit Tapi Bukan Pelit

Alfi lahir di bulan januari setahun lalu, saat musim penghujan. Kami yang tidak memiliki mesin cuci sempat kerepotan karena cucian menumpuk ndak kering-kering. Meskipun persediaan perlengkapan Alfi sudah banyak, tapi tetap saja kurang karena Alfi sering pipis. Sehingga, dengan terpaksa Alfi harus pakai diaper. Sehari Alfi habis 2-3 diaper untuk mengurangi cucian.


Kebetulan ada teman yang datang terus kasih tahu kalau ada popok isi ulang. Kalau pipis tinggal ganti kainnya dan tidak bakal tembus sampai bedong atau alas tidurnya. Saya penasaran dan menanyakan dimana belinya. Tapi waktu itu umur Alfi baru seminggu dan kondisi saya masih belum memungkinkan untuk pergi-pergi. 

Ketika umur Alfi sebulan, saya diperbolehkan pergi ke pasar. Sayapun pergi ke toko perlengkapan bayi untuk membelikan Alfi popok isi ulang yang kemudian saya tahu namanya clodi (cloth diaper). Ada, tapi tinggal 1 itupun berbentuk celana dan kurang cocok untuk bayi baru lahir. 

Akhirnya saya browsing di internet dan menemukan apa yang saya cari. Kemudian saya order 3 buah dengan harga 198 ribu sudah termasuk ongkos kirim. Tak perlu keluar masuk toko, clodi yang saya inginkan sudah sampai rumah. Itulah salah satu keuntungan belanja online. :)

Beberapa hari setelah pesanan clodi saya sampai, Antehnya Alfi (istrinya Adik) juga kirim 1 clodi buat Alfi. Jadi Alfi punya 4 clodi dan itu sangat membantu kami untuk mengurangi pemakaian diaper dan juga cucian. Kalau biasanya semalam habis 2  menjadi 1 diaper. Paginya, sehabis mandi juga tidak perlu pakai diaper karena sudah ada clodi. Berati saya bisa irit diaper dan irit uang belanja juga donk. :).

Alfi umur sebulan lebih, Clodinya masih kedodoran.

Semakin tambah usia Alfi, semakin berkurang pula volume pipisnya Alfi. Dan Alfi seperti gerah, tidurnya kurang nyenyak kalau pakai diaper. Awalnya saya masih nekad, habis mandi sore langsung pakai diaper. Tapi Alfi malah rewel dan tidurnya gelisah. Begitu diaper dibuka Alfi langsung tidur pulas. Ya sudah, bye-bye diapers dech.  Hanya saat bepergian jauh saja pakai diaper, kalau perginya dekat cukup pakai clodi saja. 

Alfi 3 bulan. Pakai clodi ga bakal ngompol di pangkuan. :)

Sebagian ibu mungkin akan mikir-mikir dulu untuk beli clodi karena harganya yang lebih mahal dan perawatannya yang ribet. Tapi kalau di hitung-hitung pakai clodi jauh lebih murah daripada pakai diaper lho. Saya beli 198ribu sampai sekarang umur Alfi 1 tahun masih bisa dipakai. Sedangkan kalau pakai diaper? Jika 1 biji harganya 2000, sehari habis 2 dikalikan 30hari dikalikan 12 bulan, sudah berapa ratus ribu coba? Uang Diaper setahun sudah bisa dibelikan mesin cuci kali ya.... Tapi saya kok belum beli ya..... :).

Alfi 4 bulan. Pakai clodi tetap enjoy bermain tanpa takut ngompol di tempat orang. :).

Ketika tahu Alfi tidak pakai diaper, ada beberapa tetangga yang agak gimana gitu. Menurut mereka, mungkin saya pelit "Kok ndak pakai pamp**s, kalau di ompoli gimana?", kata mereka. "Diompoli ya ganti to....", jawab kami enteng. Tapi Alfi memang anak pintar, kalau pingin pipis dia pasti melorot dari pangkuan. Jadi ndak bakal ngompol di pangkuan. Itupun kalau sudah sangat kebelet, karena Alfi sudah biasa pipis di catur (eh apa ya namanya?).

Biarkan saja orang mau bilang saya pelit atau apa, yang penting saya bisa irit uang belanja sekaligus bisa mengurangi jumlah sampah. Kalau di tempat saya mungkin tumpukan sampah tidak menjadi masalah karena bisa di timbun di pekarangan. Tapi di kota-kota besar sampah menjadi salah satu penyebab banjir bukan? So, pakai clodi ga bakal rugi dech... :).

Giveaway Irit tapi Bukan Pelit

Selasa, 22 Oktober 2013

Bapakku [Tidak] Galak

"Bunuh saja emakmu ini, ayo bunuh saja", teriak emak sambil memegang pisau besar dan merebahkan tubuhnya di depanku. "Ojo mak, emoh mak", tangiskupun semakin histeris melihat pisau yang menghunus di dekat leher emak. Bapak yang sudah di kuasai emosi, tiba-tiba merebut pisau itu dan secepat kilat menyabetkan ujung gagang pancing ke kakiku. Aku menjerit-jerit merasakan sakit, tapi bapak tetap mengayunkan gagang pancing itu tanpa memperdulikan jeritanku.

Kejadian itu terjadi puluhan tahun lalu saat saya masih kanak-kanak. Saya tidak bisa mengingat kenapa bapak sampai tega memukul saya dengan ujung gagang pancing dari bambu. Yang saya ingat, waktu itu saya terbangun lewat tengah malam dan nangis histeris tanpa sebab. Mungkin bapak geregetan sehingga tega memukul saya.

Saya sempat merebut gagang pancingnya dan menekuk-nekuk sampai putus beberapa potong. Berharap bapak tidak menggunakannya lagi untuk memukul saya. Tapi.... pukulan itu tidak membuat saya kapok. Besoknya, saya nangis lagi dan bapak memukul saya pakai sisa gagang pancing. Kali ini lebih terasa sakitnya karena gagangnya lebih besar dari kemarin. Setelah kejadian itu, bapak tidak pernah menggunakan pancing lagi untuk memukul saya.

Tapi bapak tak segan-segan membentak saya ketika saya melakukan kesalahan. Sandalpun kadang-kadang melayang ke pant*t, ketika saya ngotot untuk dibelikan sesuatu sedangkan bapak tidak punya uang. Pernah juga saya di lempar sepeda roda 3 gara-gara saya disuruh mandi tapi malah lari."Bapak jahat, bapak galak", begitu saya menuduh bapak, padahal saya yang nakalnya over dosis.

Tapi segalak apapun bapak, beliau tetaplah seorang bapak yang penuh kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. Apalagi ketika emak kerja ke Arab, bapaklah yang menggantikan tugas-tugas emak di rumah. Sehingga bapak punya tugas ganda, menjadi bapak dan juga emak untuk saya dan adik. Tugas berat, namun bapak mampu melakukannya. 
 Bapak dan emak (foto diambil juli 2008)

Terima kasih bapak.... karena kerasnya engkau mendidik aku telah menjadikan aku wanita tangguh yang tak pernah menyerah menghadapi kerasnya kehidupan. Maafkan anakmu yang belum bisa membahagiakanmu dan juga emak. Semoga Allah memberimu kesehatan dan juga umur panjang agar aku bisa lebih lama mendampingimu menghabiskan sisa umurmu. Amin.



Senin, 30 September 2013

[Andai] Saya Jadi Anak Orang Kaya

Sejak ada teman SMP yang tidak mau main ke rumah saya (lagi) setelah tahu rumah saya jelek, sayapun menjadi minder dan tidak berani lagi mengajak teman ke rumah. Sejak saat itu, sayapun mulai suka berkhayal menjadi anak orang paling kaya di kampung saya. Seorang boss di Malaysia, punya rumah megah dan mobil Timor. Waktu itu mobil Timor masih jadi barang wah dan membuat terpana siapa saja ketika orang tersebut memilikinya.



Ya.... saya berkhayal menjadi bagian dari keluarga kaya tersebut. Setiap menjelang tidur, berkhayal menjadi pekerjaan yang mengasyikkan buat saya. Saya jadi anak orang kaya, punya banyak teman, punya kakak laki-laki dan bisa menikmati segala fasilitas yang dimiliki keluarga tersebut.

Sejenak saya melupakan kalau saya ini anak seorang buruh tani dan TKW Arab yang gajinya tak seberapa. Saya benar-benar menikmati khayalan saya sampai akhirnya saya terlelap. Dan ketika pagi menjelang, sayapun harus menerima kenyataan kalau saya ini bukan anak orang kaya itu. Tapi saya tidak kecewa, dan tetap mengulangi dan terus mengulangi khayalan tersebut.

Sampai akhirnya, emak bisa mengumpulkan sebagian gajinya untuk membangun rumah. Tahun 1997 rumah peninggalan nenek dibongkar dan dibangun lagi menjadi lebih besar dan lebih bagus tentunya. Tapi uang emak hanya cukup untuk mendirikan saja, tembok belum dipoles, lantai masih tanah, pintu dan jendela hanya ditutup triplek.

Meskipun begitu, perlahan-lahan saya  melupakan hobby berkhayal saya. Saya mulai bisa menerima kenyataan kalau saya ini anak orang biasa, bukan anak orang kaya tapi saya ingin jadi orang luar biasa. Bersyukur dengan apa yang kami miliki membuat saya percaya diri dan memiliki banyak teman yang bisa menerima saya apa adanya.

Sekarang.... saya  bangga memiliki keluarga ini. Emak yang rela pergi jauh untuk memperbaiki ekonomi keluarga kami. Bapak yang tetap setia saat berjauhan dengan emak dan yang tetap sabar menghadapi kenakalan  kedua anaknya. Suami dan putri kecil yang membuat hidup ini jadi lebih berwarna.
Sedangkan orang kaya yang pernah hadir dalam khayalan saya itu? Sekarang tidak bisa bebas makan karena penyakit diabetesnya dan sang istri harus menahan sakit hati karena sang suami menikah lagi.

Berati keluarga kami jauh lebih beruntung dari keluarga kaya tersebut ya.... Meskipun harta tak melimpah tapi tak pernah merasa kekurangan, diberi kesehatan dan bisa menikmati kebersamaan. Semoga kami tak pernah lupa untuk bersyukur, agar nikmat ALLAH semakin bertambah. Amin.

Ada bahagia di dalam rumah sederhana ini. Rumah yang dibangun dari hasil kerja emak di luar negeri. :)

Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea

Selasa, 20 Agustus 2013

Punya Pacar Pengangguran

"Wah, ini khan motormu yang dulu itu? Kok masih ada?", kata Tiwa, seorang teman SMEA yang sekarang tinggal di Lumajang dan lagi mudik ke Madiun. 

"Walah, itu mah motor jaman perjuangan, sudah ga ada. ini motor baru beli beberapa waktu lalu", jawab saya. 

"Yang dulu khan kayak gini juga, tapi warnanya merah", kata Tiwa lagi. 

Motor jaman perjuangan, Dulu merah sekarang biru.

Tiwa adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan saya. Karena Tiwa, saya bertemu dengan seorang cowok pengangguran yang tak begitu tampan, tapi dengan pedenya bilang "maukah kamu jadi pacarku?" Saya yang waktu itu masih pakai seragam putih abu-abu, dengan lugu bilang "Iya, aku mau jadi pacarmu".

Seorang teman yang lain bilang "Cari pacar kok pengangguran". Tapi sedikitpun saya tidak terpengaruh dengan ucapan teman saya itu. Karena saya berpikir, "pacarku belum tentu jadi pasangan hidupku". Jadi saya tetap enjoy saja meskipun punya pacar pengangguran.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai tahu kalau cintanya kepada saya bukan untuk main-main. Dia tak hanya ingin pacaran dengan saya tapi juga ingin hidup selamanya bersama saya. Ya.... dia ingin saya menjadi istrinya dan menjadi ibu untuk anak-anaknya.

Melihat kesungguhannya, sayapun belajar untuk mencintai dia apa adanya, dia yang pengangguran dan dia yang tak begitu tampan tak membuat cinta saya berkurang sedikitpun. Saya berfikir bukan harta ataupun wajah tampan yang akan membahagiaakan saya, melainkan seorang imam yang mampu membimbing saya untuk menggapai surgaNYA.

Dan ternyata saya memang tidak salah memilih. Dia tak seberapa tampan tapi bisa menjaga kesetiaan disaat kami sedang berjauhan. Dia yang dulu pengangguran dan tidak punya cukup uang untuk membeli cincin kawin saat pernikahn kami, tapi sekarang menjadi seorang pekerja keras. 

Berkat usaha keras yang disertai do'a, kami yang dulu tak punya apa-apa, sekarang kami memiliki beberapa aset untuk mencari rejeki tapi belum punya rumah. Yach....Meskipun apa yang kami miliki tak sebanyak apa yang dimiliki orang lain tapi kami tetap mensyukurinya. Karena masih banyak orang yang tak memiliki apa yang kami miliki. Semoga kami jadi orang yang pandai bersyukur. Amin.

Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter

Sabtu, 17 Agustus 2013